Menuju Perkawinan Yang Islami

by generusjaktim2

SECARA umum perilaku remaja dalam memproses diri menuju perkawinan secara manusiawi dapat dibedakan menjadi tiga, yaitu tipe masa bodoh, tipe fatalisme, serta tipe pacaran.

Tipe masa bodoh berprinsip bahwa jodoh adalah urusah Tuhan, sehingga mereka melakukan hubungan dengan lawan jenis tanpa memikirkan dosa dan akibatnya. Semua mereka lakukan atas dasar suka sama suka belaka. Sedangkan tipe fatalistik berprinsip menyerahkan urusan pernikahan sepenuhnya kepada Tuhan tanpa berusaha sedikitpun.Adakesan keputus-asaan dan wawasan yang sempit terhadap orang dengan tipe ini. Sementara untuk tipe ketiga, tipe pacaran, mereka berdalih bahwa pacaran untuk menjajagi kecocokan untuk membangun satu keluarga yang baik kelak. Benarkah demikian? Coba kita kupas lanjut.

  1. Hanya kepura-puraan belaka

Pacaran hanyalah kepura-puraan dan bohong belaka. Remaja yang berpacaran akan selalu berusaha menyenangkan sang pujaan hatinya sehingga dia menyembunyikan segala kekurangannya. Dihadapan sang pacar dia akan berlaku manis dan menutup-nutupi semua kekurangan yang dimiliki. Akibatnya, setelah benar-benar menjadi suami istri, karena semua sifat aslinya mulai nampak, adanya setiap hari hanya cekcok saja.

  1. Pacaran bagai anak kecil main kelereng

Berpacaran umumnya dilakukan dengan saling bertemu, ngobrol berdua, bergandeng tangan, bermesaraan, dan sebagainya. Mumpung masih muda. Hidup adalah hari ini, bukan esok, maka nikmatilah. Mereka hanya memikirkan kekinian, kealam-maya-padaan, bagai anak kecil yang main kelereng. Kalau pas main kelereng semua dilupakan, tetapi kalau sudah bosan lalu dicampakkan begitu saja.

  1. Tidak untuk memperoleh kebahagiaan

Banyak orang yang berkilah bahwa pacaran untuk memperoleh kebahagiaan dalam bekeluarga kelak. Betulkah? Marilah kita renungkan dengan pikiran jernih, bahwa perkawinan adalah sarana memperoleh pahala serta kesenangan, kebahagian, kesejahteraan, kerharmonisan, dan kesejukan dalam bekerluarga. Itu semua tidak akan diperoleh dil luar perkawinan, sebab rohmatulloh hanya akan diberikan Alloh kepada dua anak manusia berlainan jenis yang telah mengucapkan ijab qobul. Dalam perkawinan seluruh eksistensi secara total dilibatkan oleh masing pihak. Secara lahir batin mereka akan lebur menjadi satu jiwa, satu tubuh.

Tetapi kenikmatan itu tidak akan didapat lagi kalau mereka sebelum menikah telah melakukannya. Semakin banyak pelanggaran sebelum menikah, semakin kurang nikmat yang akan dirasakan di kala mereka sudah dalam bahtera rumah tangga. Dalam tataran ringan dapat dikatakan bahwa rasa ‘greng’ dalam dada tidak sepenuhnya dialami tatkala sedang berkumpul dengan pasangannya. Mereka akan menikmati sisa-sisa kenikmatan hubungan suami istri yang belum dilakukan waktu pacaran dulu. Lebih-lebih pada masa pacaran kenikmatan yang dirasakannya adalah kenikmatan semu, karena semua itu atas dorongan napsu syetan belaka.

  1. Islam tidak Mengenal Pacaran

Dalam islam secara tegas dikatakan tidak ada istilah pacaran. Pacaran merupakan penyimpangan dari prinsip-prinsip islam. Dalam islam diajarkan agar laki-laki dan perempuan menundukkan dan menjaga pandangannya, baik pandangan batin  maupun lahir. Dipertegas lagi agar wanita-wanita muslimah dapat menutup auratnya sehingga tidak diganggu laki-laki karena sungkan. Alloh juga melarang manusia mendekati zina, apalagi melakukannya. Sementara, bagi yang belum mampu menikah dianjurkan untuk berpuasa sebagai upaya mencegah pelanggaran.

Lalu apa upaya yang harus dilakukan agar para remaja tidak terjerumus dalam pelanggaran had, pelanggaran hubungan laki-laki dan perempuan? Diperlukan pihak ketiga sebagai perantara (tim perkawinan).🙂 Pihak ketiga ini yang bertugas mengurusi proses perkawinan mereka, mulai dari menanyakan kesediaan calon pasangan sampai mengurusi akad nikah. Semua ini diproses secara islami sesuai tuntutan Al quran dan Al Hadits. Insya Alloh Barokah…!!!

3 Comments to “Menuju Perkawinan Yang Islami”

  1. LDII boleh menikah dengan orang selain LDII atau tidak?

    • Boleh lah mas, masa ngga boleh
      Tapi perlu diketahui
      , karena orang Ldii pedomannya alquran dan hadist secara kaffah, ya tentunnya nyari pendamping hidupnya juga yang menjalankan al quran dan hadist secara kaffah, sudah jelas dalam surat annisa
      Yang iman sama yang iman,
      Yang suka sodaqoh sama yg suka sodaqoh
      Yang taqwa sama yang taqwa
      Yang munafek sama yang munafek
      Yang kafir sama yang kafir
      Alloh yang berfirman ya kita wajib yakin

      Anda sendiri bertanya seperti itu bukankah mau dapat yang baik?
      Semoga mas sardi dapet jodoh yang diinginkan

      I

  2. duh padahal di teks nasehat bulanan saya dengar ga boleh tuh saya orang ldii kok wkwkwkwk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: