Serpihan Pertanyaan…???

by generusjaktim2

Kali ini saya akan menjawab bebrapa pertanyaan dari kalian rekan muda/i, baik yang pernah tersampaikan melalui lisan, maupun yang tersirat dari tingkah laku kalian yang memandang saya dengan penuh kerutan di dahi..he!

Karena tulisan ini akan terkesan blak-blakan, maka sebelumnya saya minta maaf yang sebesar-besarnya bila menyinggung salah satu atau salah ‘lebih’ pihak. Semata-mata saya hanya ingin kalian paham dan memaklumi aja.

Oke, sudah cukup basa basinya… hehe

Saya tidak berniat menggurui apalagi menyampaikan suatu dakwah/nasehat layaknya orang-orang yang sudah jauh lebih pandai mendalami agama dibandingkan diri saya sendiri. Tapi, sangat tidak lengkap jika catatan ini tidak diawali dengan ayat favorit saya, yang membuat saya kuat sampai sekarang, yang membuat saya yakin akan janji Alloh, dan yang membuat saya semakin haus untuk mengemis cinta-Nya.

Dalam Surat An-Nur ayat 26 Allah berfirman:

“Perempuan-perempuan yang keji untuk laki-laki yang keji, dan laki-laki yang keji untuk perempuan-perempuan yang keji (pula), sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula). Mereka itu bersih dari apa yang dituduhkan orang. Mereka memperoleh ampunan dan rezeki yang mulia (surga).”

Ayat ini menunjukkan kesucian ’Aisyah r.a. dan Shafwan dari segala tuduhan yang ditujukan kepada mereka. Rasulullah adalah orang yang paling baik, maka perempuan yang baik pula yang menjadi istri beliau.

“…sedangkan perempuan-perempuan yang baik untuk laki-laki yang baik, dan laki-laki yang baik untuk perempuan-perempuan yang baik (pula).”

Saya mencoba merenungkan, bahwa dalam kalimat itu terdapat penjelasan “(pula)”. Kita memang tidak mungkin pantas disamakan dengan Rasulullah, namun setidaknya kisah beliau mendapatkan istri-istri yang solihah dan baik serta mulia hatinya, adalah suatu bukti bahwa Alloh menjanjikan kebaikan untuk orang-orang yang tetap menjaga dirinya jauh dari kekejian.
Photobucket

Subhanalloh…

Jadi kesimpulan saya adalah bukan saya harus susah-susah mencari orang yang terbaik kesana kemari yang akan menjadi pendamping hidup saya kelak, tapi saya justru harus menjadi lelaki yang baik agar dengan sendirinya Alloh akan menepati janji-Nya kepada saya, dan teman-teman yang lain yang mengusahakan hal yang sama.

Jadi jelas sudah, apa yang kita dapatkan adalah hasil dari apa yang kita lakukan.!!!!

Nah, terkait beberapa pertanyaan yang kadang sekelebat muncul entah yang dibalut canda maupun yang serius meminta penjelasan, contohnya,

“Kenapa si, Fulan (nama samaran ja)? Kok kamu ngga pernah respek sama orang yang memperhatikan kamu? Apalagi sama orang yang simpati ke kamu, kok kamu kesannya cuek?”

Sebagai catatan saja, bahwa pertanyaan di atas tidak berlaku jika yang bersimpati dan memperhatikan saya adalah kaum saudari dan teman laki2 saya, justru saya akan sangat respek dan insya Alloh mencoba memberikan perhatian yang minimal sepadan atau lebih kepada mereka. Karena ketika kita (saya dan saudara/teman laki-laki saya) saling berjabat tangan, menebar senyum, dan bepelukan itu adalah sebuah tanda cinta yang diniatkan karena Alloh semata.

Tapi berbeda 180 derajat ketika yang memberikan simpati dan perhatian adalah kaum ‘lawan’, kecuali mahrom saya tentunya. Saya bukannya mencoba introvert pada mereka, saya juga tidak mencoba menganggap mereka hanya angin lalu, apalagi dengan saklek mengharamkan interaksi dengan mereka.

Saya hanya ingin membatasi, saya tidak ingin kelepasan memberikan harapan yang belum tentu atau bukan hak saya, dan yang pasti … saya hanya ingin menjadi orang baik.

Oke. Oke. Baik memang relatif. Istilah baik dalam pembahasan ini masih belum kita sepakati batasannya. Maka dari itu, saya akan mencoba mendefinisi tentang ‘baik’ di mata saya, dan mohon maaf jika saya kurang mempedulikan objektifitas karena sekali lagi… baik (dalam pembahasan ini) relatif, dan kebetulan catatan ini milik saya, jadi relativitas itu tentu akan cenderung didominasi pemahaman saya sendiri.

Seorang perempuan yang baik di mata saya adalah (hanya menurut saya):

Ketika mereka menjaga jilbabnya, menutup auratnya sesuai dengan Alquran dan hadits, bukan hanya dengan balutan kain yang masih menampakkan lekuk tubuhnya (baju ketat) agar dapat dinikmati sembarang orang di sepanjang jalan yang ia lalui.
Ketika mereka melaksanakan perintah Alloh dan Rosul hanya dengan niat untuk mendapatkan kesempatan berjumpa dengan-Nya di syurga kelak, karena itu adalah semulia-mulianya cita-cita di mata saya.
Ketika mereka tidak pernah menerima seorangpun lelaki yang bukan mahram (terutama yang belum tentu jodohnya) hadir di hidupnya selain dengan jalan akad nikah. ckck…!!!

Ketika mereka mempersiapkan diri mereka baik secara fisik, psikis, dan sosiologis untuk menjadi seorang calon ibu yang baik, bukan seorang calon pacar yang terlihat sangat baik dan manis di depan calon mertua padahal di luar itu semua, sifatnya berbanding terbalik.
Ketika mereka gemar melafalkan Quran, mengahafalnya, memahaminya, dan bangun di tengah malam untuk berkasih dengan-Nya.

Ihdinasyorothol mustaqiim…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: