Jama’ah

Dasar Menetapi Jama’ah :
Apa yang dimaksud dengan Ahli Sunnah Wal Jama’ah Versi Qur’an Hadist (bukan versinya pendapat).
Ahli Sunnah adalah Orang yang dalam praktek ibadahnya sesuai dengan Qur’an Hadist, tidak di campuri bid’ah, qurafat, takhayul, sirik.
Adapun maksud Jama’ah secara Umum adalah Suatu perkumpulan yang ada Pimpinan/Imam dan ada yang di pimpin atau Ro’yah atau Makmum, contoh ; Jama’ah Sholat.
dan Pengertian Jama’ah secara Qur’an Hadist juga demikian, sesuai dengan sabda Rosulluloh Saw.
Ma ana ‘alaihi wa Ash-haabi
Artinya : “Aku Nabi berada di Atasnya bersama-sama dengan para Sahabatku”.yang maksudnya Nabi berada diatas itu Sebagai Pemimpin dan Sahabat sebagai orang yang di Pimpin.
bukan seperti pemahamannya orang yang mengaku dirinya Salafi bahwa pengertian Hadist tersebut : ” yang mengikuti Sunnahku dan Sunnah Sahabatku”. Sebab tidak ada dalil satupun yang mengharuskan mengikuti Sunnah Sabahat kecuali Khulafaur Rosyidin (Abubakar, Umar, Ustman, Ali) yang sudah mendapat lisenci dari Alloh dan Rosul.
Sekarang saya jelaskan secara terperinci Dalil-dalil yang mengharuskan menetapi Jama’ah :
Qs. AlImron 19
ان الدين عند الله الأسلم
Artinya:”Sesungguhnya agama yang di ridhoi Alloh adalah agama islam”
Ini adalah dasar kita memilih islam sebagai agama .
Qs. Al-Imron 102
يايها الذين امنو ااتقو االله حق تقته ولاتموتن الا وانتم نسلمون
Artinya : “Hai Orang-orang yang beriman takutlah kamu pada Alloh dan jangan mati kamu sekalian kecuali mati dalam keadaan Islam
Qs. Al-Imron 103
واعتصمو بحبل الله جميعا ولا تفرقوا …….الايه
Artinya : “Berpegang teguhlah pada tali Alloh (Agama Islam) dengan semua (berjama’ah) dan jangan berpecah belah ….“.
maksud dari ayat tersebut adalah dalam menetapi islam kita di larang berpecah belah / harus bersatu, bersatu yang dimaksud adalah dengan cara berjamaah. ayat-ayat tersebut adalah bahasa Qur’an / Bahasa Alloh.
Sekarang kita bahas Hadist-Hadist yang memperkuat ayat tersebut :
Sabda Rosulluloh Saw.
عليكم بالجماعة واياكم والفرقة * رواه ترمذي
Artinya :”Menetapilah kalian pada Jama’ah dan Jauhilah ber firqoh-firqoh”.maksudnya Nabi memerintahkan kita dalam mentapi islam jangan sampai berpecak belah carannya dengan berjamaah.
تلزم جماعة المسلمين وامامهم * رواه البخار
Artinya :”Menetapilah kamu pada Jama’ahnya orang islam dan Imam mereka”.
Kesimpulan :
  • Menetapi Jama’ah adalah perintah Alloh Rosul atau sesuatu yang harus di tetapi, dan Jama’ah bukan metode seperti pemahaman orang-orang yang mengaku dirinya Salaf. sekali lagi menetapi Jama’ah itu hukumnya wajib.
  • Jama’ah yang dimaksud di sini bukan Jama’ah Sholat, Jama’ah Haji, Jama’ah Yassin, Jama’ah Tahlil, tetapi pengertian Jama’ah disini adalah bentuk aslinya Islam yaitu dalam mentapi Islam Harus dengan cara berJama’ah. yangmana dalam menetapi islam harus punya pengatur atau Imam. dan perlu di ingat Imam atau pengatur yang dimaksud di sini bukan Imam Sholat juga bukan pemimpin suatu negara/daerah seperti yang di maksud orang-orang yang mengaku dirinya golongan Salaf. tetapi pengatur / pemimpin disini adalah pemimpin islam yang berlandaskan hukum-hukum Qur’an Hadist sesuai dengan Dalilnya :
السلطان ظل الله في الأرض… * طب هب عن أبي بكر
Artinya : “Pengatur /Imam itu Naungannya Alloh di Bumi”. Maksudnya pengatur di sini adalah pemimpin agama (bukan pemimpin kerajaan) yang menegakkan hukum-hukum Alloh Rosul.
dalam Qs. Annisa’ 59 diterangkan :
يأيها الذين ءامنو اأطيعوا الله وأطيعو الرسول وأولى الأمر منكم ….الأية
Artinya : “Wahai orang-orang beriman Thoatlah kalian kepada Alloh dan Thoatlah kalian pada Rosul dan kepada orang yang mempunyai perkara (agama) dari kalian…”. ayat ini menerangkan orang-orang iman di suruh Thoat pada Alloh, Rosul, dan Pengatur Agama (Imam/Amir), bukan seperti pendapat orang yang mengaku dirinya Salaf yaitu memahami arti pengatur sebagai pengatur negara/kerajaan. dan diperkuat Sabda Rosulluloh tertera di dalam:
HR. Muslim Kitabul Imaroh : “Barang siapa Thoat Aku (Nabi), maka sungguh-sungguh Thoat Alloh, dan Barang siapa yang menentang Aku(Nabi), maka sungguh-sungguh menentang Alloh, dan barang siapa thoat Amir, maka sungguh thoat padaku (Nabi), dan barang siapa menentang Amir, maka sungguh-sungguh menentang padaku (Nabi).

Hasil Menetapi Jama’ah :

keterangan hasil menetapi Jama’ah di sebutkan dalam HR. Termidzi :
من أراد بحبوحة الجنة فليلزم الجما عة * رواه ترمذي
Artinya : “Barang siapa yang menghendaki pada tengah-tengah surga (masuk surga), maka tetapilah Jama’ah”.
dan Nabi bersabda HR. Termidzi :”Tangan Alloh (pertolongan Alloh) beserta orang-orang Jama’ah, barang siapa yang keluar (dari Jama’ah) maka keluarnya menuju neraka”.

pada HR. Tobroni : “Barang siapa yang beramal dengan niat karena Alloh di dalam Jama’ah lalu benar, maka Alloh menerima amalan orang itu dan jika salah maka Alloh mengampuninya, dan barang siapa yang beramal dalam fir’qoh (tidak Jama’ah) l walaupun benar, maka Alloh tidak menerima pengamalannnya, dan jika salah hendaklah orang itu bertempat di neraka”

2 Comments to “Jama’ah”

  1. MEI 27 Desember 2010 Seri 1 Kenapa Aku Keluar Dari Firqoh Ini ?! (1) Ketika akan memulai tulisan ini, aku ingat sebuah riwayat yang terdapat dalam Mushanaf Abdurrazaq (no. 18667 – tahqiq Habiburahman Al-Adzami), yang berbunyi: Artinya, 18667 – Mengabarkan kepada kami Abdurrazaq dari Ma’mar dari Qatadah dari Abu Aliyah Al-Ziyadi yang berkata: “Sesungguhnya aku merasakan dua kenikmatan yang aku tidak mengetahui manakah diantara dua kenikmatan tersebut yang terbesar: “Ketika Allah memberi hidayah kepadaku untuk memeluk Islam, dan ketika Allah tidak menjadikan aku sebagai Haruri (khawarij).” Sungguh ini perkataan yang benar dari para ulama salaf. Apalagi setelah kita mengetahui bagaimana dasyatnya fitnah ini dan bagaimana susahnya keluar dari fitnah ini. Bahkan bagi sebagian orang, fitnah telah masuk ke setiap persendian sebagaimana terkena rabies, sulit untuk disembuhkan lagi. Tetapi Allah akan menunjukan kepada siapa saja yang benar-benar ikhlas mencari kebenaran, tidak terhalangi oleh hawa nafsu yang terang-terangan ataupun yang samar-samar. Yang pertama kali menjadi dasar sikap ruju ku adalah: Pertama, adalah sikap ujubnya. Tidak mungkin Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam mengajarkan sifat ini bahkan beliau jauh dari sifat ini. Akan tetapi anehnya, bahkan sejak kecil seorang pengikut jama’ah ini sudah diajarkan sifat ujub, bahkan kalau tidak memiliki sifat ini maka ia dianggap tidak memiliki keyakinan yang kuat, dianggap memiliki iman yang lemah. Padahal setahu ku, keyakinan akan kebenaran dan telah mengamalkan kebenaran itu tidak harus melahirkan sifat ujub, bahkan justru harus melahirkan sifat tawadhu. Imam Ibn Adi rahimahullahu dalam al-Kamil (4/317 – cet Darul Kutub Ilmiyah) menyebutkan, Artinya, Menceritakan kepada kami Ishaq bin Ibrohim bin Yunus menceritakan kepada kami Muhammad bin Abdul Malik bin Abi Asy-Syaurab, menceritakan kepada kami Salam bin Abi Ash-Shahaba’ dari Tsabit dari Anas yang berkata, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Seandainya kalian tidak pernah berbuat dosa, maka aku benar-benar khawatir akan menimpa kalian sesuatu yang lebih besar daripada itu, yaitu ujub (berbangga diri)”. Hadits ini hasan lighairihi, lihat Silsilah Ash-Shahihah no. 658 karya Imam Al-Albani rahimahullahu. Kedua, adalah sikap suka berbohongnya, Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dikenal dengan julukan al-Amin, siapapun mempercayai kejujuran dan sikap adil beliau, bahkan orang kafir sekalipun. Dan kaum muslimin pun dilatih dan diwajibkan untuk mencontoh sifat beliau shallallahu’alaihi wasallam ini. Akan tetapi, menjadi Madigoli justru dididik sebaliknya. Bahkan dusta adalah makanan sehari-hari, tidak dianggap kuat imannya (paham) jika dia tidak pandai berdusta. Seorang makin tinggi jabatannya dalam imamah maka makin pandai pula berbohongnya. Menurut ku ini keterlaluan, agama ini tidak dibangun dengan kebohongan. Ketiga, adalah adabnya yang tidak menggambarkan adab Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. Beliau shallallahu’alaihi wasallam bukan seorang yang kasar, tidak berkata-kata kotor dan jorok, dan tidak membiasakan dan mempopulerkan kata-kata yang malu telinga ini jika mendengarnya. Bahkan beliau tidak banyak berbicara tentang makanan (dunia) dan kemaluan (hawa nafsu). Akan tetapi, sebaliknya telinga ku ini dalam pengajian-pengajian Madigoli dijejali dengan hal-hal semacam itu, tanpa risih para penceramah dan mubaligh mengatakannya di mimbar-mimbar, jadi bahan lelucon dan hiburan. Al-Qur’an atau Kitab Hadits yang dipegang tidak membuat mereka malu berbuat seperti itu. Aku yakin seyakin-yakinnya, kebiasaan seperti ini tidak pernah ada dizaman Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam. (Bersambung Ke Seri 2) ======================================================================================== 27 Desember 2010 Seri 2 Kenapa Aku Keluar Dari Firqoh Ini ?! (2) Kemudian seiring rasa penasaran ku yang makin bertambah, bertambah pula pengetahuan ku akan kerusakan dalam jama’ah ini. Diantaranya, Keempat, adalah senangnya mereka berbangga dengan sanad dan ijazahnya, walaupun kenyataannya mereka tidak memiliki cukup ilmu. Ketika ada ustadz dari selain kelompoknya membantah dengan hujjah-hujjah ilmiah, jika mereka tidak mampu menjawabnya, maka kata terakhir adalah, “Dia tidak mangkul”, “tidak punya sanad” dan lain sebagainya. Padahal setahu ku Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tidak mewajibkan kita memiliki ijazah atau sanad dulu untuk amar ma’ruf nahi mungkar atau untuk menerima kebenaran, sebagaimana ditunjukan oleh hadits: مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ وَذَلِكَ أَضْعَفُ الْإِيمَانِ “Barangsiapa diantara kamu melihat kemungkaran maka rubahlah dengan tangannya, jika dia tidak mampu merubah dengan tangannya, rubahlah dengan lisannya, jika dia tidak mampu merubah dengan lisannya, maka rubahlah dengan hatinya, dan itu adalah selemah-lemahnya iman”. (Riwayat Muslim (1/69) no. 49). Aib bagi seorang muslim, jika datang kebenaran kemudian dia tidak mau mengikutinya. Kelima, adalah keherananku, kenapa seakan-akan ada dua imam menurut keyakinan jama’ah ini yang wajib ditaati. Yaitu imam yang menguasai seluruh negeri yaitu pemerintah yang kata mereka wajib ditaati, juga mewajibkan taat kepada imam kelompoknya yang dibai’at. Berarti mereka mengakui dua imam dalam satu negeri, imam yang mengurusi perkara dunia dan imam yang mengurusi masalah akhirat. Menurut ku ini pendapat yang ganjil dan banyak sekali kelemahannya. Sedangkan aku telah lama mendengar hadits yang diriwayatkan oleh Thabroni dalam Mu’jam Al-Kabir (19/314) no. 710 – Tahqiq Hamdi Abdul Majid As-Salafi: “Jika ada dibumi ini dua khalifah, maka bunuhlah salah satu dari keduanya”. (Dengan lafazh ini, diriwayatkan juga dalam Al-Ausath (4/169) no. 3885, Al-Haitsami (5/198) berkata, “Rijalnya tsiqah”). Bukankah hadits ini penegasan wajibnya memiliki satu imam ?! Keenam, adalah ketaatan mereka kepada imamnya yang membabi buta. Dimana imamnya tidak menerima kritik dan koreksi, justru kita yang berniat baik untuk kebaikan jama’ah akan dianggap terpengaruh, tidak paham (lemah imannya), resolusi (memberontak) dan lain sebagainya. Kalau koreksi datang dari orang selain kelompoknya, maka akan ditolak mentah-mentah karena mereka hanya menerima pendapat-pendapat kelompok, orang itu akan dianggap orang yang dengki, ingin jadi imam dan lain sebagainya. Bukankah mereka mengetahui tafsir ayat ini, اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ “mereka menjadikan orang-orang alimnya dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah” (Surat At-Taubah 31). Mereka tidak menyembahnya, tapi jika orang alim dan rahib itu menghalalkan apa yang diharamkan Allah, mereka juga ikut menghalalkannya, dan jika mereka mengharomkan apa yang dihalalkan Allah, mereka juga ikut mengharomkannya. Inilah bentuk penyembahan kepada mereka. Silahkan lihat dalam Sunan Tirmidzi (no. 3095 –Cet Al-Halabi) : Hadits ini dikeluarkan juga oleh Baihaqi dalam Sunan (no. 20137). Dan apa yang aku tuturkan ini baru sebagiannya … (Bersambung Ke Seri-3) ===================================================================================== 28 Desember 2010 Seri – 3 Kenapa Aku Keluar Dari Firqoh Ini ?! (3) Ini sebagian alasannya lagi ….. Ketujuh, adalah banyak sekali upaya mereka menghalangi seseorang mendalami ilmu-ilmu agama. Seperti membuat syarat-syarat dalam mencari ilmu yang tidak memiliki dasar, melarang membaca kitab-kitab, mengerdilkan kebutuhan akan bahasa Arab, menyepelekan keilmuwan ulama dan lain sebagainya. Tidak lah mereka semakin keras membuat berbagai upadaya ini, kecuali aku semakin curiga ada sesuatu dalam ilmu yang akan membahayakan eksistensi mereka. Lalu aku teringat kelakuan mereka itu mirip dengan kisah Yahudi dalam Shohih Bukhori (no. 3635 – cet Darul Ibnu Katsir) yang berusaha menutup-nutupi kitab Taurot karena takut ketahuan adanya hukum rajam didalamnya!. “Ada beberapa orang Yahudi yang mendatangi Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam untuk memberitahukan adanya dikalangan mereka seorang laki-laki yang berzina dengan seorang wanita. Bertanyalah Rasulullah shallallaahu ‘alaihi wa sallam kepada mereka, “Apa yang kalian temukan dalam masalah hukum rajam di kitab Taurat ?”. Mereka menjawab, “(Hukuman pezina dalam taurot adalah) diumumkan dan dicambuk”. Abdullah bin Salam berkata, “Kalian berdusta!!, sesungguhnya didalam Taurat terdapat rajam”. Mereka kemudian mengambil Taurat dan membukanya. Lalu salah seorang dari mereka menutupkan tangannya pada bagian ayat (yang berisi hukuman) rajam, mereka hanya membaca ayat sebelumnya dan sesudahnya saja. (Melihat itu) Abdullah bin Salam berkata, “Angkat tanganmu !!”. Maka dia pun mengangkat tangannya dan ternyata memang ada ayat tentang rajam di dalam Taurat. Mereka berkata, “Benar ya Muhammad, di dalam Taurat terdapat ayat tentang rajam”. Kedelapan, aku melihat mereka telah berlebihan dalam meletakan masalah imammah (keimaman) sehingga sampai meletakan masalah ini diatas rukun Islam yang lima, bahkan sebagai syarat diterimanya rukun Islam yang lima dan semua amalnya, bahkan orang Islam yang tidak melakukan syirik sekalipun kalau tidak membai’at imam maka semua amalnya itu tidak akan diterima, imam dianggap sebagai pengesah keislaman seseorang dan menghalalkan hidupnya, seakan-akan dengan inilah Islam itu dibangun dan karena inilah Islam itu disebarkan. Ini tidak mungkin menurut ku, sebab Allah Ta’ala berfirman, وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka menyembah-Ku. (Adh-Dhariyat 56). Dan Allah Ta’ala Berfirman : إِنَّ اللَّهَ لا يَغْفِرُ أَنْ يُشْرَكَ بِهِ وَيَغْفِرُ مَا دُونَ ذَلِكَ لِمَنْ يَشَاءُ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya (An-Nissa 48). Bahkan menurut Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu dalam Minhajus Sunnah An-Nabawiyyah (I/75 – Tahqiq Dr. Muhammad Rasyid Salim), itiqad yang demikian dianggap kekufuran, “Sesungguhnya yang berpendapat bahwa masalah ‘Imammah’ merupakan tuntutan yang paling urgen di dalam hukum Islam dan merupakan masalah kaum muslimin yang paling mulia adalah dusta belaka berdasarkan ijma’ (kesepakatan) kaum muslimin, baik dari kalangan Ahlus Sunnah maupun kalangan Syi’ah (yakni Syi’ah yang awal –pen). Bahkan pendapat seperti itu adalah sebuah kekufuran. Sebab masalah iman kepada Allah dan Rasul-Nya lebih penting daripada masalah ’Imammah’. Hal itu sudah sangat dimaklumi di dalam dinul Islam. Seorang kafir tidak akan menjadi seorang mukmin hingga ia bersyahadat Laa Ilaaha Illallaahu wa Anna Muhammadan Rasulullah. Atas dasar itulah Rasulullah memerangi kaum kafir yang awal.” Kemudian aku mengetahui mereka banyak menggunakan hadits palsu dan lemah dalam masalah ini. (Bersambung Ke Seri – 4) ========================================================================================= 30 Desember 2010 Seri Ke-4 Kenapa Aku Keluar Dari Firqoh Ini ?! (4) Kesembilan, adalah pengakuan jama’ah ini bahwa mereka adalah Thaifah Manshuroh dan Firqatun Najiyah yang mewarisi ilmu Nabi shallallahu’alaihi wasallam dengan sambung menyambung (muntasil). Akan tetapi, kenyataannya aku melihat kondisi jama’ah ini yang penuh dengan kebodohan dan ketidakmampuan menjawab hujjah-hujjah dari luar dengan jawaban-jawaban ilmiyah, justru marak digunakan ro’yu yang tidak memiliki dalil, berbagai khurofat yang dipelihara dan bid’ah yang dibiarkan. Padahal kalau benar mereka Thaifah Manshuroh atau Firqatun Najiyah, niscaya mereka pasti akan memiliki kemampuan (ilmu) untuk mengetahui semua itu. Thaifah Manshuroh sebagai pewaris ilmu ini harusnya orang-orang yang memiliki kemampuan mengembannya (berilmu), sehingga mampu melawan setiap serangan kepada Ad-Din dengan ilmu, dan mampu bersikap adil ditengah-tengah manusia dengan ilmunya. Imam Baihaqi rahimahullahu dalam Sunan Al-Kubro (10/354 – cet Darul Kutub Ilmiyah), “Ilmu (agama) ini akan terus diwarisi oleh orang-orang adil (terpercaya) dari tiap generasi, yang selalu berjuang membersihkan agama ini dari Tahriful Ghalin (yaitu perubahan yang dilakukan orang-orang yang melampaui batas dalam urusan agama, yaitu orang-orang yang mengganti yang haq dengan yang bathil dengan melakukan perubahan atau pergantian pada lafazh atau makna -pen), Intihalul Mubthilin (yaitu kedustaan orang-orang sesat yang mengatasnamakan agama. Yaitu orang-orang yang mengaku sesuatu untuk dirinya secara bohong, baik berupa sya’ir maupun perkataan, padahal milik orang lain -pen) dan Ta’wilul Jahilin (penta’wilan agama yang salah yang dilakukan oleh orang-orang yang jahil. Yaitu tanpa berlandaskan ilmu dan pemahaman terhadap ayat atau hadits, sehingga mereka memalingkan maknanya -pen)”. Kesepuluh, adalah pengakuan bahwa pendiri jama’ah ini sebagai mujadid, wali dan ahli hadits, akan tetapi aku melihat dari riwayat-riwayat yang aku dengar sendiri dari mereka, dan yang aku baca sendiri dari makalah-makalah, dan yang aku lihat sendiri dari photo-photo, sama sekali tidak menggambarkan dia sebagai ulama ahli hadits yang patut dijadikan tauladan. Aku justru memandang apa yang dikatakan karomah yang dia miliki, lebih menyerupai sihir, jin-jinan dan amalan-amalan yang biasa dilakukan dukun dan tukang sulap, Al-Mazari rahimahullahu berkata sebagaimana dikutip oleh Ibn Hajar rahimahullahu dalam Fathul Baari (10/223 –Darul Ma’rifah): “Perbedaan antara sihir, mukjizat dan karamah, adalah bahwa sihir berlangsung melalui proses bantuan sejumlah perkataan (bacaan) dan perbuatan (amalan), sehingga terwujud apa yang diinginkan penyihir. Adapun karamah tidak memerlukan hal semacam itu bahkan biasanya muncul berkat taufiq (dari Allah)”. Kesebelas, adalah pengakuan bahwa pendiri jama’ah ini sebagai mujadid, wali dan ahli hadits, anehnya beliau sering mengenakan pakaian yang tidak syar’i dan berbangga dengannya (narsis) terbukti dari photo-photonya, padahal tergabung dua hal padanya tasyabuh (menyerupai orang kafir) dan syuhroh (pakaian kesombongan/kebanggaan/ketenaran), sebagaimana dalam Ibnu Majah (no. 3607 – ta’liq Al-Albani cet Maktabah Al-Ma’arif), Artinya, “Barangsiapa mengenakan pakaian syuhroh di dunia, niscaya Allah akan mengenakan pakaian kehinaan padanya pada hari kiamat, kemudian membakarnya dengan api neraka.” Sebagian ulama menjelaskan, “… Memakai model pakaian yang menyelisihi kebiasaan masyarakat setempat (yakni kebiasaan berpakaian yang tidak bertentangan dengan syariat Islam -pen), hukumnya makruh karena bisa menyebabkan syuhroh. Yang dimaksud (dengan syuhroh adalah) pakaian yang pemakainya menjadi tenar dan jadi bahan pembicaraan di masyarakat. Pakaian semacam itu dilarang karena menyebabkan banyak yang menggunjingnya, sehingga dia menjadi menyebab orang lain berbuat dosa ghibah”. (al-Mausuah al-Fiqhiyah al Kuwaitiyah (6/136-137) – cet th. 1406 H). (Bersambung Ke Seri – 5) ======================================================================================= 02 Januari 2011 Seri Ke-5 Kenapa Aku Keluar Dari Firqoh Ini ?! (5) Keduabelas, adalah sikap mereka yang gampang sekali mengkafirkan, memfasikkan dan mencela, dengan tidak menggunakan kaidah-kaidah yang ma’ruf diantara ulama. Akibatnya banyak melahirkan sikap-sikap yang melampaui batas terhadap kaum muslimin, seperti: tidak mau sholat dibelakang selain kelompoknya, tidak mau mensholatkan jenazah selain kelompoknya, tidak mewaris dengan selain kelompoknya, tidak mau menikah dengan selain kelompoknya, menganggap najis selain kelompoknya, dan lain sebagainya dari konsekwensi takfir mereka. Jika aku tidak bermudah-mudahan dalam mengkafirkan orang lain, justru aku dianggap tidak paham (lemah iman) dan terpengaruh. Padahal tidak kah aku takut untuk mengkafirkan kecuali karena telunjuk kafir akan mengarah kembali kepada ku jika orang yang ku tuduh itu tidak termasuk kafir dihadapan Allah?!!. Syaikhul Islam Ibn Taimiyah rahimahullahu dalam Majmu Al-Fatawa (23/345-346 –cet Darul Wafa’) berkata, Artinya, “Sesungguhnya sebuah perkataan, boleh jadi merupakan perkataan kufur, hingga dikatakan: ‘Barangsiapa mengatakan perkataan ini, maka dia menjadi kafir’. Tetapi orang tertentu yang mengatakan perkataan itu tidak mesti dihukumi kafir, hingga dijelaskan padanya dalil-dalil yang menyebabkannya kafir dengan meninggalkan dalil-dalil itu. Hal ini seperti dalil-dalil yang memuat ancaman, dimana Allah Ta’ala berfirman, “Sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zhalim, sebenarnya mereka itu menelan api sepenuh perutnya dan mereka akan masuk ke dalam api yang menyala-nyala’ (Qs. An-Nissa 10). Ayat ancaman ini (wa’iid) dan ayat-ayat lain yang semisalnya adalah benar, tetapi tidak boleh mengatakan bahwa orang tertentu berada dalam adzab (ancaman) ini. Tidak boleh mempersaksikan orang tentu dari kaum muslimin bahwa ia berada di neraka. Mungkin saja ancaman itu tidak mengenai dirinya karena tidak terpenuhinya syarat-syarat tentang hal tersebut, atau karena adanya penghalang tentang hal itu. Atau mungkin saja dalil akan keharaman hal itu tidak sampai kepadanya. Atau ia telah bertaubat dari perbuatan tersebut, atau ia ditimpa musibah yang menjadi penghapus dosa-dosanya, atau mungkin juga telah dikabulkan syafaat seseorang atasnya. Demikian pula hukum dari perkataan-perkataan yang dikafirkan para pelakunya. Mungkin saja belum sampai dalil-dalil tentang suatu perkara kepada orang itu. Mungkin juga telah sampai kepadanya dalil tentang suatu perkara, tetapi ia tidak meyakini kebenaran (keshahihan) dalil tersebut (dari Rasulullah shallahu’alahi wasalam –pen). Atau dia belum mampu memahaminya atau terdapat syubhat yang menghalanginya dihadapan Allah Ta’ala”. Imam Al-Albani rahimahullahu menyebutkan sebuah hadits (no. 3201) dalam Silsilah Ash-Shahihah (7/605 – cet Maktabah Al-Ma’arif), Artinya, “Sungguh yang paling aku takutkan menimpa kalian adalah munculnya seseorang yang membaca al-Qur’an hingga terlihat dia sangat senang membacanya, dia menjadi pembela Islam, lalu tiba-tiba ia tanggalkan pakaian Islam, kemudian mencampakkannya ke belakang punggungnya, lantas ia berbuat zalim terhadap tetangganya dengan pedang dan melempar tudingan syirik padanya. Ditanyakan, “Ya Nabiyullah, manakah dari keduanya yang lebih dekat kepada syirik?, sipenuduh atau tertuduh?”. Beliau bersabda, “Bahkan si penuduh”. Ketigabelas, adalah ketika mereka aku ajak bicara masalah-masalah ini, mereka tidak mau berpikir secara mendalam malah berpuas diri dengan pemahaman yang dangkal. Kadang kala hanya berpatokan kepada makna harfiah atau arti tekstual saja –padahal mereka tidak terlalu paham bahasa Arab-, lalu mengomentarinya hanya dengan pandangan sekilas saja. Jika aku seperti mereka dan terus bersama mereka, aku takut termasuk dalam apa yang disebutkan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, “Mereka membaca Al-Qur’an tapi tidak melewati kerongkongan mereka”. Imam Ibnu Majah rahimahullahu dalam Sunan (no. 174 – tahqiq Al-Albani cet Maktabah Al-Ma’arif), Artinya, “… dari Ibnu Umar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan muncul generasi yang membaca Al Qur’an namun tidak melewati kerongkongan mereka, setiap muncul satu generasi maka akan terputus (diberantas).” Ibnu Umar berkata; Aku mendengar Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Setiap keluar satu generasi akan terputus (diberantas) sebanyak dua puluh kali, hingga keluar di antara keturunan mereka Dajjal”. Imam Tirmidzi rahimahullahu dalam Sunan (no. 2188 – tahqiq Al-Albani cet. Maktabah Al-Ma’arif) menjelaskan bahwa orang-orang yang seperti ini disebut Khawarij, Artinya, ”Dalam hal ini ada hadits serupa dari ‘Ali, Abu Sa’id dan Abu Dzar, hadits ini hasan shahih. diriwayatkan dalam selain hadits ini dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang menyebutkan ciri-ciri kaum itu, mereka membaca Al-Qur`an dan tidak mencapai kerongkongan, mereka meninggalkan agama dengan cepatnya seperti terlepasnya anak panah dari busurnya itu tidak lain adalah kaum Khawarij Al-Haruriyah dan kalangan Khawarij lain”. (Bersambung Ke Seri – 6) ======================================================================================== 02 Januari 2011 Seri Ke – 6 Kenapa Aku Keluar Dari Firqoh Ini ?! (6) Keempatbelas, aku heran karena banyak kesalahan dalam ibadah dan makna dalam ayat-ayat Al-Qur’an dan Hadits yang mereka tidak mau ruju dari kesalahan itu, bahkan justru mencela siapa saja yang ruju dari kesalahan itu. Ini artinya bergabung bersama mereka akan menghalangi seseorang kembali kepada kebenaran, dan mengikuti kebenaran. Bahkan akan mengajak untuk taqlid kepada orang-orang yang tidak maksum. Padahal telah jelas dalam hadits shahih yang diriwayatkan oleh Muslim (no. 91 –Cet Darul Mughni), Artinya, “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya ada kesombongan seberat biji sawi”. Seorang laki-laki bertanya: “Ada seseorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus (apakah termasuk bersikap sombong?)” Beliau Shallallahu ‘alaihi wa sallam menjawab: “Sesungguhnya Allah Maha Indah dan menyukai keindahan. Kesombongan ialah menolak kebenaran dan merendahkan manusia”. Kelimabelas, adalah perintah untuk membantah, berdiskusi dan mendebat secara batil orang-orang yang dianggap berlawanan dengan kelompoknya dengan slogan “Yang penting menang” !?. Padahal orang Islam tidak menghalalkan segala cara, justru orang kafir yang suka berbuat demikian. Allah Ta’ala berfirman, وَمَا نُرْسِلُ الْمُرْسَلِينَ إِلا مُبَشِّرِينَ وَمُنْذِرِينَ وَيُجَادِلُ الَّذِينَ كَفَرُوا بِالْبَاطِلِ لِيُدْحِضُوا بِهِ الْحَقَّ وَاتَّخَذُوا آيَاتِي وَمَا أُنْذِرُوا هُزُوًا Artinya, ”Dan tidaklah Kami mengutus rasul-rasul hanyalah sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan; tetapi orang-orang yang kafir membantah dengan yang batil agar dengan demikian mereka dapat melenyapkan yang hak, dan mereka menganggap ayat-ayat kami dan peringatan-peringatan terhadap mereka sebagai olok-olokan”. [Qs. Al Kahfi 56]. Jika disampaikan ceramah, nasihat atau bantahan kepada mereka dalam suatu majelis ilmu seperti kajian, seminar atau bedah buku, mereka berusaha menggagalkannya dengan membuat hiruk pikuk dan kekacauan, seperti pernah dilakukan kafir Quraisi yang disebutkan Al-Qur’an : وَقَالَ الَّذِينَ كَفَرُوا لا تَسْمَعُوا لِهَذَا الْقُرْآنِ وَالْغَوْا فِيهِ لَعَلَّكُمْ تَغْلِبُونَ Artinya, “Dan orang-orang yang kafir berkata: “Janganlah kamu mendengar dengan sungguh-sungguh akan Al Quran ini dan buatlah hiruk-pikuk terhadapnya, supaya kamu dapat mengalahkan mereka” (Qs. Al-Fushshilat 26). Kebiasaan ini mengherankanku, dan aku yakin Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan para sahabatnya tidak pernah melakukan cara-cara seperti ini. Bahkan Allah Ta’ala berfirman, ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ Artinya, “Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang lebih baik.” (Qs. An-Nahl 125). (Bersambung Ke Seri – 7) ======================================================================================= 04 Januari 2011 Seri Ke-8 Kenapa Aku Keluar Dari Firqoh Ini ?! (8) Kedelapanbelas, aku melihat jama’ah ini tidak memiliki komitmen terhadap dakwah tauhid, padahal untuk ini lah para rasul diutus dan karena inilah Allah menerima amal-amal kita. Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman: وَلَقَدْ بَعَثْنَا فِي كُلِّ أُمَّةٍ رَسُولا أَنِ اعْبُدُوا اللَّهَ وَاجْتَنِبُوا الطَّاغُوتَ “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rosul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), ‘Sembahlah Allah (saja) dan jauhilah thaghut.” (QS. An Nahl: 36). Imam Bukhori rahimahullahu menyebutkan dalam kitab Shahihnya (no. 7372 –cet Darul Ibnu Katsir) pada Kitabu Tauhid, bab bahwa dakwah Nabi shallallahu’alaihi wasallam kepada umatnya adalah supaya mentauhidkan Allah Tabaroka wa Ta’ala, Artinya, “…….. Ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam akan mengutus Mu’adz berdakwah kepada ahli Yaman, beliau bersabda kepadanya, “Sesungguhnya kamu akan mendatangi kaum Ahli Kitab, maka hendaklah dakwah yang pertama kali engkau serukan kepada mereka adalah agar mereka menauhidkan Allah Ta’ala ….”. Kesembilanbelas, aku heran dengan begitu percaya dirinya mereka mengatakan dimimbar-mimbar tentang pasti dan wajibnya diterima amal-amal ibadah mereka lantaran telah bergabung dengan kelompok ini. Padahal seharusnya seorang mukmin tidak boleh mensucikan dirinya dan selalu mempunyai perasaan sebaliknya (takut tidak diterima amalnya) supaya ia senantiasa memperbaiki ibadahnya sebagaimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala yakni dengan penuh ikhlas dan mengikuti Nabi-Nya shallallahu’alaihi wasalam. Dan aku heran, bagaimana mereka menganggap orang yang mengucapkan sebaliknya atau mengucapkan istitsna’ tatkala menyatakan keimanan, misalkan ucapan: “Saya seorang mukmin, insya Alloh” sebagai orang yang tidak paham, tidak yakin dan lemah iman. Padahal Allah Ta’ala berfirman, وَالَّذِينَ يُؤْتُونَ مَا آتَوْا وَقُلُوبُهُمْ وَجِلَةٌ أَنَّهُمْ إِلَى رَبِّهِمْ رَاجِعُونَ “Dan orang yang telah memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut”. (Surat Al-Mu’minun 60). Tafsirnya dalam Sunan Tirmidzi (no. 3175 – Maktabah Al-Ma’arif), …. Aisyah berkata: “Apakah mereka (yang takut ini) orang-orang yang meminum khamer dan mencuri?”. Nabi shallallahu’alaihi wasalam bersabda, “Bukan wahai Binti Ash-Shiddiq, akan tetapi mereka adalah orang-orang yang berpuasa, shalat dan bersedekah. Mereka takut kalau-kalau amal mereka tidak diterima. Mereka adalah orang-orang yang bersegera dalam kebaikan”. Imam Al-Albani rahimahullahu menjelaskan perkara ini dalam Silsilah Ash-Shahihah (1/306 – cet. Maktabah Al-Ma’arif), “Ketakutan seorang mukmin bila ibadah mereka tidak diterima bukan berarti mereka takut kalau Allah tidak memberi pahala kepada mereka. Tentu saja itu tidak sesuai dengan janji Allah Ta’ala kepada mereka seperti terdapat dalam firman-Nya : “Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amalan-amalan yang saleh, maka Allah akan memberikan kepada mereka dengan sempurna pahala amalan-amalan mereka…” (Qs Ali Imran 57). Bahkan Allah Ta’ala akan menambahkan pahala amalan mereka itu seperti yang disinggung dalam firman-Nya : “.. maka Allah akan menyempurnakan pahala mereka dan menambah untuk mereka sebagian dari karunia-Nya” (Qs. An-Nisa 173). Allah Ta’ala tidak akan mengingkari janji-Nya seperti termaktub dalam firman-Nya. Sesungguhnya soal penerimaan suatu ibadah itu tergantung kepada bagaimana pelaksanaannya, apakah sesuai dengan perintah Allah Ta’ala atau tidak. Sedangkan mereka tidak dapat memastikan bahwa mereka telah melaksanakan persis sesuai dengan yang dikehendaki oleh Allah Ta’ala. Bahkan mereka mengira bahwa mereka tidak dapat melaksanakan seperti itu. Oleh karena itu mereka takut kalau-kalau ibadah mereka tidak diterima. Seharusnya seorang mukmin selalu mempunyai perasaan demikian supaya ia senantiasa memperbaiki ibadahnya sebagimana yang diperintahkan oleh Allah Ta’ala yakni dengan penuh ikhlas dan mengikuti Nabi-Nya shallallahu’alaihi wasalam. Inilah yang dimaksud-kan oleh ayat: “Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya’ (Qs. Al-Kahfi 110) Imam Al-Ajuri rahimahullah menjelaskannya dalam Asy-Syari’ah (hal. 656 – cet. Darul Wathan), “Diantara sifat Ahlulhaq dari para ulama yang telah kami sebutkan adalah bahwa dibolehkan istitsna dalam iman, tetapi yang demikian bukan berarti keraguan, na’udzubillah. Akan tetapi apa yang mereka lakukan tidak lain adalah untuk menghindari jangan sampai mensucikan dirinya sendiri sampai pada kesempurnaan iman, padahal belum tentu apakah ia sampai kepada hakikat itu atau tidak. Oleh sebab itu, Para ahli ilmu dari kalangan ahlulhaq (Ahlus Sunnah) jika ditanya : ‘Apakah engkau orang iman?’; Mereka akan menjawab, “Aku beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, Rasul-Rasul-Nya, hari kiamat, surga, neraka dan yang semisal ini’. Orang yang meyakini semua ini serta meyakininya dalam hatinya, maka dia mukmin”. (Bersambung Ke Seri – 9) ==================================================================================== 05 Januari 2011 Seri Ke-9 Kenapa Aku Keluar Dari Firqoh Ini ?! (9) Keduapuluh, diantaranya kerusakan berhizbi ini adalah kalau pemimpin hizbi memerintahkan untuk bersemangat mengerjakan suatu amalan mustahab (sunnah) dan menekannya, maka para pengikut akan bersemangat hingga mereka mengubahnya menjadi suatu kewajiban, maka jadilah yang mustahab itu wajib bagi anggota hizbi. Dengan demikian mereka telah mewajibkan sesuatu yang tidak diwajibkan oleh Allah. Mereka telah membuat syari’at yang hanyalah hak Allah. أَمْ لَهُمْ شُرَكَاءُ شَرَعُوا لَهُمْ مِنَ الدِّينِ مَا لَمْ يَأْذَنْ بِهِ اللَّهُ “Apakah mereka mempunyai sembahan-sembahan selain Allah yang mensyariatkan untuk mereka agama yang tidak diizinkan Allah?” (Qs. asy-Syura 21). Keduapuluhsatu, aku melihat diantara bahaya berhizbi seperti ini bagi diriku adalah dalam penunaian ibadah. Yaitu ketika penunaian syi’ar ibadah yang diperintahkan syari’at berubah dari kewajiban penghambaan diri kepada Allah menjadi kewajiban hizbi, sehingga akan mengotori keikhlasan, akhirnya yang diperhatikan dalam penunaian ibadah hanyalah ridho hizbinya bukan ridho Allah. Ini akan berbeda jika aku tidak terikat oleh apapun, niscaya akan lebih mudah menuju keikhlasan dan keberangkatan ku menunaikan ibadah tidak ada yang mendorongnya kecuali karena Allah. Imam Muslim rahimahullahu (no. 2985 – cet Darul Mugni), … “Barangsiapa yang mengerjakan suatu amalan dengan mencampurkan dalam amalnya itu bersama-Ku dari selain-Ku, niscaya Aku tinggalkan dia dan amal kesyirikannya itu”. (Bersambung Ke Seri – 10) ================================================================================== 07 Januari 2011 Seri Ke-10 Kenapa Aku Keluar Dari Firqoh Ini ?! (10) Keduapuluhdua, ini ada hubungannya dengan alasan kelima terdahulu, yaitu pengakuan mereka bahwa pemimpin mereka hanyalah pemimpin yang mengurusi masalah akhirot saja (masalah agama), kata mereka, ”… adapun urusan dunia maka kami tunduk dan patuh kepada pemeritah yang sah”. Ini artinya mereka hanya mengaku sebagai pemimpin dalam bidang dakwah Islam saja. Tetapi anehnya, pemimpin kelompok mereka ingin disebut imam, amir atau amirul mukminin, bahkan menggunakan dalil-dalil tentang imam, amir, sulthon dan khalifah sebagaimana disebutkan dalam hadits-hadits, oleh sebab itu mereka menghukumi kaum muslimin yang tidak membai’at imam mereka dengan mati jahiliyah. Padahal hadits-hadits itu hanya berbicara tentang amir/imam yang tertinggi yang memiliki fungsi sebagai penegak hukum, ketertiban dan penjaga keamanan. Oleh sebab itu munculah bab tentang hudud, jihad, menjaga perbatasan, memerangi pemberontak, mengambil jizyah dan lainnya dalam kitab-kitab hadits, yang kesemua itu tidaklah ditegakan kecuali oleh seorang amir/imam. Lalu imam model yang mana pemimpin kelompok mereka itu?!. Aku tidak tahu, apakah hal ini pengaruh dari sunnah umat Katolik dan Paus-Paus-nya, atau pengaruh dari kaum sekuler yang memisahkan urusan agama dengan dunia?!!, yang jelas ini bukan berasal dari Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan para Sahabatnya. Dan ternyata apa yang membuat aneh diriku ini, pernah dibahas oleh orang yang telah menghabiskan umurnya untuk ilmu hadits dan telah mempelajari hadits-hadits nabawi sampai jarang sekali kita temukan tandingannya diabad ini, yaitu Syaikh Al-Muhadits Nasiruddin Al-Albani rahimahullahu dimana beliau berkata, “Sesungguhnya mereka (jama’ah-jama’ah hizbiyah) berdalil dengan hadits ini (Hadits imammah dan jama’ah), lalu sebagian mereka menerapkannya kepada pemimpin mereka yang mereka telah membai’atnya, seperti sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam, “Barangsiapa mati dan dilehernya tidak ada bai’at, maka matinya seperti mati dalam keadaan jahiliyah”. Oleh karena itu mereka mengangkat amir, dan membai’atnya. (padahal) Amir seperti mereka ini bukan amir yang wajib dibai’at. Dan apa-apa (yang wajib) bagi kaum muslimin adalah bekerja dengan setiap kekuatan dan ilmu untuk mengembalikan masyarakat Islami yang menuntut bangkitnya seorang laki-laki sebagai Khalifah yang wajib dibai’at oleh setiap orang Islam. Adapun jama’ah-jama’ah yang ada sekarang mengangkat seorang amir diantara mereka, dan tiap anggota diwajibkan berbai’at kepadanya. Dan jika ada yang tidak membai’atnya, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah, ini tindakan penyimpangan (tahrif) kalimat dari posisinya, dan tidak boleh terjadi seperti ini bagi kaum muslimin”. (Al-Manhaj Salaf Inda Syaikh Al-Albani (hal. 232) oleh Syaikh Amru Abdul Mun’im Salim). Syaikh Al-Albani rahimahullahu dalam Silsilah Ash-Shahihah (2/677 – Al-Maktabah Al-Ma’arif) berkata : “Ketahuilah bahwa ancaman yang disebutkan itu (mati jahiliyah –pen) hanya bagi orang yang tidak membai’at khalifah kaum muslimin dan keluar dari mereka, bukan sebagaimana yang disangka oleh sebagian orang agar setiap kelompok atau partai (hizb) membai’at pimpinannya, bahkan ini adalah perpecahan (firqah) yang dilarang Al-Qur’an Al-Karim”. Kemudian tahulah aku setelah mempelajari masalah ini lebih dalam, bahwa para ulama ahlus sunnah zaman sekarang memiliki pemahaman sama dengan Syaikh Al-Albani ini, semisal di Arab Saudi yaitu Syaikh Ahmad Yahya An-Najmi dalam al-Mawrid al-Adh’b az-Zilal fima intaqada ‘ala ba’adil-manahij ad-da’wiyyah min al-‘Aqa’id wal-‘A’amal hal. 214, Syaikh Taqiyuddin Al-Hilali dalam Qaulul Baligh fit Tahdzir min Jama’at At-Tabligh karya Syaikh Hamud At-Tuwaijiri rahimahullahu hal. 138, Syaikh Bakr Abu Zaid dalam Hukmul Intima’ hal. 128, Syaikh Shalih Fauzan dalam Al-Muntaqo min Fatawi asy-Syaikh Shalih Fauzan (1/367) dan lain-lain. Keduapuluhtiga, adalah tentang pengertian ’mati jahiliyah’ itu sendiri, mereka mengatakan bahwa yang dimaksud adalah mati kafir, sedangkan aku menemukan bahwa ternyata para ulama terdahulu tidak mengartikan mati jahiliyah ini sebagai mati kafir. Sebagaimana Imam Bukhori rahimahullahu dalam Shahih (1/18 cet. Ibnu Katsir), ”Bab “Kemaksiatan itu merupakan perkara Jahiliyyah”, dan tidak dikafirkan pelakunya kecuali jika disertai kesyirikan, (dalilnya) ucapan Nabi shallallahu’alaihi wasalam (kepada Abu Dzar): “Sesungguhnya pada dirimu masih terdapat sifat-sifat jahiliyah”. Dan firman Allah Ta’ala: “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa syirik, dan mengampuni dosa selainnya bagi siapa yang dikehendakinya” (An-Nissa 48)”. Al-Hafizh Ibnu Hajar rahimahullahu dalam Fathul-Bari (13/7) menjelaskan: “Yang dimaksud dengan “mati Jahilyyah” dengan bacaan mim kasrah (“Miitatan bukan Maitatan”) ialah seperti matinya orang-orang jahiliyah yang berada di atas kesesatan dan tidak memiliki imam yang ditaati, karena mereka tidak mengenal hal itu. Dan yang dimaksudkan bukan lah mati kafir tetapi mati dalam keadaan maksiat”. Seperti itu pula yang dikatakan oleh Imam An-Nawawi rahimahullahu Muslim (12/238), Imam Asy Syaukani rahimahullahu dalam Nailul Authar (7/199), Imam Al-Qurthubi rahimahullahu dalam al-Mufhim Lima Usykila min Talkhisi Sahihi Muslim (4/59) dan lain-lain. Dan aku yakin pemahaman itu bukan perkataan asal-asalan saja, tapi berdasarkan pemahaman atas bahasa Arab yang baik, dan pemahaman atas Islam secara menyeluruh bukan sepotong-sepotong. Dan kemudian aku menemukan hadits yang mendukung pemahaman ini, yaitu hadits yang berbunyi: “Khomer itu ibunya setiap keburukan, barangsiapa yang meminumnya tidak akan diterima sholatnya selama 40 hari, dan jika mati sedangkan dalam perutnya terdapat khomer, maka ia mati sebagaimana matinya orang jahiliyah”. (Dihasankan oleh Al-Albani rahimahullahu dalam Shahihul Jami no. 3344 – Maktab Al-Islami). Walaupun sudah jelasnya hukuman berat bagi peminum khamer, aku kira tidak ada ulama yang mengkafirkan orang yang meminum khomer itu dengan alasan hanya karena ia ‘mati jahiliyah’. Bagaimana mungkin aku harus tetap dalam kelompok yang membangun sebuah pondasi yang rapuh, lalu harus mengatakan kepada rumah yang kuat sebagai rumah yang akan rubuh ke dalam neraka?. (Bersambung Ke Seri-11) ================================================================================ 10 Januari 2011 Seri Ke-11 Kenapa Aku Keluar Dari Firqoh Ini ?! (11) Keduapuluhempat, Aku melihat hal yang berbahaya dalam masalah thaharoh (sesuci), yaitu sikap berlebihan mereka. Dikatakan berbahaya sebab terdapat banyak kerusakan didalamnya: Pertama, perbuatan itu bid’ah termasuk mensyari’atkan apa yang tidak disyari’atkan Allah, bahkan Allah berfirman, إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُعْتَدِينَ “Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.” (Al-A’raaf: 55). Ayat ini mengisyaratkan bahwa sesuci secara berlebihan tidak akan diterima oleh Allah; Kedua, melahirkan sikap meremehkan dan menanamkan sikap ragu terhadap apa yang dicontohkan syari’at; Ketiga, memelihara sikap was-was dari Setan dengan menumpahkan air sebanyak-banyaknya, lalu menyangkanya sebagai suatu kebaikan padahal Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam telah memerintahkan dan mencontohkan untuk menghilangkan penyakit ini; Keempat, bisa menimbulkan sikap malas dalam beribadah (karena sulit sesuci) atau pembenaran untuk tidak melakukan ibadah; Kelima, menumbuhkan kebencian dan su’udzon dari kaum muslimin yang lain; Keenam, kalau menggunakan air umum, dikhawatirkan mengambil hak orang lain karena melebihi apa yang menjadi hak kita, lama-lama hak orang lain yang terambil itu makin banyak. Imam Abu Dawud rahimahullahu dalam Sunan (no. 96 – Cet Riyadh), … dari Abu Na’amah sesungguhnya Abdullah bin Abu Mughafal mendengar Anaknya berkata: “Yaa Allah saya memohon kepada-Mu Istana Putih di bagian kanan surga apabila saya masuk kedalamnya. Maka Beliau berkata : “Wahai anakku mintalah surga kepada Allah, dan mintalah perlindungan dari-Nya dari api neraka, karena sesungguhnya saya mendengar Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Akan ada diumat ini kaum yang melampaui batas dalam bersuci dan berdoa“. Penulis telah banyak membahas masalah ini dalam artikel yang lain. Keduapuluhlima, adalah bid’ah yang mereka sebut infak persenan, penarikan harta ini tidak termasuk zakat yang diwajibkan syari’at tapi ia berkedudukan menyamai atau bahkan melebihi (?) zakat wajib. Kerusakan dari infak persenan ini antara lain, Pertama, mendekatkan diri kepada Allah harus disertai dalil, dan tidak ada dalil dalam masalah ini, maka pelakunya jatuh pada perbuatan bid’ah; Kedua, perbuatan ini termasuk kedzaliman ditandai dengan adanya intimidasi sedangkan Allah mengharamkan kedzaliman; Ketiga, mereka mengintimidasi dengan ayat-ayat dan hadits-hadits ancaman tentang penolakan membayar zakat, tentu ini termasuk menggunakan nash bukan pada tempatnya, kadangkala anggota kelompok diintimidasi dengan menggunakan tamsil-tamsil batil dan qiyas-qiyas yang tidak memiliki dasar, semuanya termasuk penipuan dan kedustaan; Keempat, Seseorang yang mangkir dari membayar persenan maka ia akan segera dihukumi tidak faham (lemah iman), ini tentu kerusakan besar sebab mensyaratkan suatu amalan bid’ah sebagai tolak ukur keimanan; Kelima, perbuatan bid’ah ini bisa mengalahkan apa yang justru diwajibkan oleh syari’at yaitu zakat; Keenam, Perbuatan ini justru mirip perpuluhannya Kristen, uang pengorbanannya Ahmadiyah, dan khumusnya Syi’ah. Dan kita dilarang bertasyabuh dengan orang-orang kafir; Ketujuh, banyak sekali ancaman dalam nash kepada orang yang mengambil harta kaum muslimin tanpa haknya diantaranya apa yang disebutkan oleh Imam Thabrani rahimahullah dalam Mu’jam Al-Ausath (3/154) no. 2769 –cet Darul Haramain): …. “Pintu-pintu langit selalu terbuka pada pertengahan malam, lalu berseru lah para penyeru: “Jika ada orang yang berdo’a, maka do’anya akan dikabulkan, Jika ada orang yang meminta, maka ia akan diberi, jika ada orang yang kesusahan, maka akan diberi jalan keluar dari kesusahannya, maka tidak tersisa dari seorang muslim yang berdo’a kecuali Allah ‘Azza wa Jalla akan mengabulkannya, kecuali pelacur yang menjual farjinya, atau penarik harta 10 persen”. (Bersambung Ke Seri-12) ================================================================================= 20 Januari 2011 Seri Ke-12 Pasal Penjelasan Dari Khurofat-Khurofat Mengetahui Perkara Ghaib? Ini tentang apa yang disebutkan dari “kelebihan-kelebihan” dari sang pendiri jama’ah, yaitu Bapak Nur Hasan Al-Ubaidah yang disebut juga Madigol dalam Makalah CAI yang biasa terbit setahun sekali. Biografi beliau telah dirangkum dan diterbitkan dalam makalah itu selama beberapa tahun tanpa ada perubahan yang berarti. Diantara isinya yang membuatku heran adalah: Sedangkan, termasuk perkara yang tidak diperselisihkan oleh ahlus sunnah adalah bahwa perkara ghaib tidak ada yang mengetahuinya selain Allah Ta’ala, karena firman Allah: قُلْ لا يَعْلَمُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ الْغَيْبَ إِلا اللَّهُ Katakanlah: “Tidak ada seorang pun di langit dan di bumi yang mengetahui perkara yang gaib, kecuali Allah” (QS. An-Naml 65). Dan berfirman: وَمَا تَدْرِي نَفْسٌ مَاذَا تَكْسِبُ غَدًا “Dan tiada seorang pun yang dapat mengetahui (dengan pasti) apa yang akan diusahakannya besok”. (QS. Luqman 34). Dan diriwayatkan oleh Muslim (no. 176 – Darul Mughni) : Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam bersabda, “Barangsiapa mengaku dia bisa mengabarkan hal-hal yang akan terjadi besok maka dia telah mengadakan kedustaan besar terhadap Allah”. Mungkin sebagian orang beralasan, bahwa yang mendorongnya untuk mengada-ngadakan hal itu karena ghirah (kecemburuan) terhadap agama, namun hal itu tetap bukan alasan yang bisa diterima. Karena ghirah yang benar terhadap agama adalah tertanam dalam semangat tauhid, jangan sampai ada satu noda pun yang mengotorinya dengan memusuhi sedikit saja darinya. Apalagi yang termasuk sifat-sifat Allah yang menjadi kekhususan-Nya. Ataupun bahkan yang mendorongnya adalah karena memberi semangat orang-orang yang putus asa untuk mendapatkan pertolongan. Tetap saja perbuatan ini terlarang, karena membuat dia terjatuh dan menjatuhkan orang lain kepada perbuatan yang diharamkan berupa melihat perkara yang ghaib dan mengacaukan aqidah. Tidakkah menjadi pelajaran bagi kita kisah Al-Mukhtar bin Ubaid sang pendusta. Dahulu ia suka terjun ke tengah-tengah pertempuran kemudian mengabarkan kepada manusia bahwa pertolongan akan datang dari arah ini dan itu. Ketika ia menyangka pertolongan telah jatuh kepadanya, segera ia berkhutbah untuk mendapatkan pengakuan mereka. Lihat kisahnya dalam Adz-Dzahabi dalam Siyar A’lam an-Nubala (3/542 – Tahqiq Al-Arnauth). Lama kelamaan Al-Mukhtar mengaku mendapatkan wahyu, sehingga dikatakan oleh Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu, “Wahyu itu ada dua jenis, wahyu dari Allah dan wahyu dari setan. Wahyu dari Allah turun kepada Muhammad shallallahu’alaihi wasallam, sedangkan wahyu dari setan turun kepada para walinya, lalu beliau membaca firman Allah: وَإِنَّ الشَّيَاطِينَ لَيُوحُونَ إِلَى أَوْلِيَائِهِمْ Dan Sesungguhnya setan itu memberi wahyu kepada wali-walinya .. (QS. Al-An’aam 121). Lihat kisahnya dalam Tafsir Ibnu Katsir (3/328 –cet Darul Thoyibah), Walaupun seandainya Allah menampakan sebagian perkara ghaib kepada seorang hamba, hamba tersebut mestilah seorang Rasul, bukan yang lainnya, karena Allah berfirman, عَالِمُ الْغَيْبِ فَلا يُظْهِرُ عَلَى غَيْبِهِ أَحَدًا. إِلا مَنِ ارْتَضَى مِنْ رَسُولٍ Dia Yang Mengetahui yang gaib, maka Dia tidak memperlihatkan kepada seorang pun tentang yang gaib itu. Kecuali kepada rasul yang diridai-Nya,… (QS. Al-Jinn 26-27). Adapun kemudian perkataan orang-orang yang mengaku ‘mengetahui” perkara ghaib itu kemudian benar-benar terjadi, maka itu adalah sebagian hasil bisikan setan kepada walinya dari sisa-sisa pencurian mereka atas kabar-kabar dari langit, sebagaimana dikisahkan dalam hadits. Atau sebagimana firman Allah Ta’ala, قُلْ مَنْ كَانَ فِي الضَّلالَةِ فَلْيَمْدُدْ لَهُ الرَّحْمَنُ مَدًّا “Katakanlah: “Barangsiapa yang berada di dalam kesesatan, maka biarlah Tuhan yang Maha Pemurah memperpanjang tempo baginya” (QS. Maryam 75). Seharusnya kalau mereka termasuk orang-orang yang benar-benar mengetahui perkara-perkara ghaib itu, tentu mereka akan lebih sanggup lagi dalam menolak setiap kemudhorotan yang menimpa mereka sendiri, dan kenyataannya tidak. قُلْ لا أَمْلِكُ لِنَفْسِي نَفْعًا وَلا ضَرًّا إِلا مَا شَاءَ اللَّهُ وَلَوْ كُنْتُ أَعْلَمُ الْغَيْبَ لاسْتَكْثَرْتُ مِنَ الْخَيْرِ وَمَا مَسَّنِيَ السُّوءُ إِنْ أَنَا إِلا نَذِيرٌ وَبَشِيرٌ لِقَوْمٍ يُؤْمِنُونَ Katakanlah: “Aku tidak berkuasa menarik kemanfaatan bagi diriku dan tidak (pula) menolak kemudaratan kecuali yang dikehendaki Allah. Dan sekiranya aku mengetahui yang gaib, tentulah aku membuat kebajikan sebanyak-banyaknya dan aku tidak akan ditimpa kemudaratan. Aku tidak lain hanyalah pemberi peringatan, dan pembawa berita gembira bagi orang-orang yang beriman” (Al-A’raaf 188). Dan bagi yang mendatanginya, agar takut dari ancaman dalam hadits, sebagaimana dicantumkan dalam Silsilah Ash-Shahihah (no. 3387), “Barangsiapa mendatangi dukun (tukang ramal) lalu dia membenarkan ucapannya maka sungguh dia telah kafir terhadap apa yang diturunkan kepada Muhammad shallallahu’alaihi wasallam”. (Bersambung ke seri ke-13) =============================================================================== 22 Januari 2011 Seri -13 Pasal Penjelasan Dari Khurofat-Khurofat Apakah Ini Karamah? Dalam makalah yang sama (CAI) aku membaca sebuah tulisan yang dijadikan oleh sebagian mereka ketika menerangkan biografi bapak Nur Hasan sebagai dalil bahwa doa beliau itu mustajab. Tulisan itu berbunyi, Mungkin mereka memandang peristiwa itu adalah sebuah kehebatan dan menampakan “kewalian” beliau, adapun aku, tidak melihat tentang uang yang ditemukan dibalik sajadah yang ia pakai sholat itu, kecuali dari dua perkara: Pertama, Jika uang itu adalah uang beliau sendiri, maka dengan demikian tidaklah menjadi kelebihan bagi dirinya dalam perkataan, “Sesungguhnya doanya mustajab”. Sebab orang yang mempunyai uang menolong kepada orang yang tidak memiliki uang bisa dilakukan siapa saja bahkan orang yang doanya tidak mustajab sekalipun. Maka penyusun makalah itu sudah benar dengan memasukannya ke dalam bab suka menolong. Tapi kalau benar demikian, muncul pertanyaan lain, kenapa kalau memang uang itu sudah ada, beliau tidak memberikannya langsung, melainkan harus shalat dan berdoa terlebih dahulu sehingga seolah-olah itu semua karena sholat dan doanya tersebut? Bukankah ini adalah kebohongan? Dan akan menimbulkan berbagai macam syubhat kepada orang-orang yang menyaksikannya?. Atau kenapa ia harus menyimpannya dibawah sajadah, lalu menyuruh orang yang butuh pertolongan itu membuka sajadahnya?. Bukankah yang demikian bisa menjerumuskan seseorang pada syubhat dan riya?. Kedua, Jika uang itu bukan uang miliknya, maka termasuk barang temuan (luqathah), sama sekali tidak ada hak baginya atas uang itu, dan tidak boleh memasukannya dalam sesuatu yang menyerupai karamah atau pengabulan doa dari Allah untuk dirinya. Dan kita jangan tertipu dengan talbis dari sesuatu yang menyerupai karomah ini. Justru yang demikian itu cobaan bagi beliau, apakah beliau akan lebih mengikuti ro’yunya bahwa uang itu pemberian dari Allah atas sholat dan doanya, atau lebih mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya yang mengabarkan bahwa siapa saja yang menemukan harta berharga bukan miliknya, maka kewajibannya adalah mengumumkannya kepada khalayak minimal selama setahun, kalau tidak ada yang mengakuinya, barulah uang itu boleh dimilikinya, sebagaimana dalam hadits yang diriwayatkan oleh Bukhori (no. 2426 –cet Darul Ibnu Katsir): Artinya : Suwaid bin Ghaflah berkata, “Aku bertemu dengan Ubay bin Ka’ab, ia berkata, “Aku menemukan sebuah kantung yang berisi sertus dinar, lalu aku mendatangi Nabi shallallahu’alaihi wasallam, lalu beliau bersabda, “Umumkan dalam setahun”. Al-Hafizh Ibnu Jauzi dalam Talbis Iblis (yang sebenarnya Kitabnya dikutip juga dalam Makalah CAI) pada pasal “Talbis yang menyerupai karomah” (hal. 368 –cet Darul Kalam), tidak menganggap hal demikian itu sebagai karomah, sebagaimana beliau mengisahkan suatu kisah mirip dengan kejadian diatas. Artinya, Abu Imron berkata, “Farqad pernah berkata kepadaku, “Wahai Abu Imron, saat ini perhatianku terpokus pada masalah pajak yang harus aku bayarkan, yaitu sebanyak 6 dirham. Bulan sabit sudah muncul dan saat ini aku belum mempunyai uang sepeserpun. Maka akupun berdoa kepada Allah. Ketika aku sedang berjalan dipinggir sungai Eufrat, tiba-tiba aku menemukan 6 dirham, tidak kurang dan tidak lebih”.Abu Imron berkata, “Shodaqohkan itu, itu bukan milik mu”. Abu Imron adalah Ibrohim An-Nakha’i seorang ulama faqih dari penduduk kufah. Perhatikanlah bagaimana sebagai seorang fuqaha ia tidak mudah terkecoh dan bagaimana dia menganggap uang yang ditemukan Farqad itu sebagai luqathah (barang temuan) dan sama sekali tidak memandangnya sebagai sesuatu yang menyerupai karomah. Abu Imron tidak meminta Farqad menguraikan lebih lanjut tentang uang yang ia temukan itu, bahkan penduduk Kufah sendiri tidak biasa menggunakan mata uang selain dinar. Abu Imron justru memerintahkannya untuk menshodaqahkan uang temuan itu. Agar Farqad tidak dianggap dimuliakan dengan suatu karomah”. Coba renungkan, perbedaan antara kefaqihan ulama dan anggapan orang awam. Seri-seri ini diakhiri sampai disini, tambahan pembahasan lainnya akan penulis kumpulkan dalam kitab tersendiri dengan judul, “Kenapa Aku Keluar Dari Firqah Ini”, mudah-mudahan Allah memudahkannya. ======================================================================= 15 Februari 2011 Fatwa Syaikh Muhammad Utsaimin rahimahullah Tentang Pengkafiran Pemerintah Muslim Belum lama ini, nama Syaikh Muhammad Shalih Utsaimin rahimahullahu beredar dikalangan Islam Jama’ah karena dikutipnya perkataan beliau dalam Kitab Muktasor Jama’ah Wal Imammah, dan seringnya “pakubumi-pakubumi” yang kembali dari negeri Arab menyebut-nyebutnya. Sayangnya, ulama dikalangan mereka tidak mengatahui atau bahkan menyembunyikan (?) fatwa-fatwa, perkataan-perkataan dan rekaman-rekaman pengajian beliau yang bertentangan dengan pemahaman mereka atas imammah dan jama’ah. Serta kenyataan bahwa Syaikh rahimahullahu melarang kaum muslimin bergabung dengan jama’ah-jama’ah model mereka, dan memerintahkan mereka agar mentaati pemerintah muslim dinegaranya masing-masing selama mereka masih sholat, sebagaimana telah ma’ruf dalam hadits. Berikut ini adalah diantara sekian fatwa yang tidak diperdengarkan kepada orang awam 354, berupa dialog Syaikh Muhammad bin Sholih Al-Utsaimin rahimahullahu dengan orang-orang Al-Jaza’ir yang pemerintahnya menerapkan sistem demokrasi sebagaimana di Indonesia. ===================================== السائل: بالنسبة للحاكم الجزائري يا شيخ! الآن الشباب الذين طلعوا من السجون أكثرُهم لا زال فيهم بعض الدَّخَن، حتى وإن طلعوا من السجون وعُفي عنهم، لكن لا زالوا يتكلَّمون في مسألة التكفير، ومسألة تكفير الحاكم بالعين، وأن هذا الحاكم الذي في الجزائر حاكمٌ كافرٌ، ولا بيعة له، ولا سمع ولا طاعة لا في معروفٍ ولا في منكرٍ؛ لأنَّهم يُكفِّرونهم، ويجعلون الجزائر ـ يا شيخ! ـ أرض ـ يعني ـ أرض كفر. Penanya: Hubungannya dengan pemerintah Al-Jaza’ir –wahai Syaikh-, sekarang para pemuda (yakni, anggota FIS) yang telah keluar dari penjara. Kebanyakan diantara mereka masih ada pada mereka sedikit perasaan dendam sehingga walaupun mereka telah keluar dari penjara, dan telah dimaafkan, tapi mereka senantiasa berbicara masalah takfir (pengkafiran), dan masalah pengkafiran pemerintah dengan main tunjuk, dan bahwa Pemimpin (pemerintah) yang ada di Al-Jaza’ir adalah pemimpin kafir, dan tak ada bai’at baginya, tak perlu didengar dan ditaati, baik dalam perkara ma’ruf maupun mungkar, karena mereka (pemuda FIS) ) telah mengkafirkan pemimpin, dan menganggap Al-Jaza’ir sebagai negara kafir. الشيخ: دار كفر؟ Syaikh: (mereka menganggapnya) Negara Kafir? السائل: إي، دار كفر، نعم يا شيخ! لأنَّهم يقولون: إنَّ القوانينَ التي فيها قوانين غربية، ليست بقوانين إسلامية، فما نصيحتُكم أولاً لهؤلاء الشباب؟ وهل للحاكم الجزائري بَيْعَة، علماً ـ يا شيخ! ـ بأنَّه يأتي يعتمِر ويُظهرُ شعائرَ الإسلام؟ Penanya: Betul, negara kafir, wahai Syaikh! Karena mereka (pemuda FIS) berkata, “Sesungguhnya undang-undang yang ada di Al-Jaza’ir adalah undang-undang barat, bukan undang-undang Islam”. Pertama, apa nasihat anda kepada para pemuda tersebut? Apakah ada bai’at bagi pemerintah Al-Jaza’ir, dan perlu diketahui –wahai Syaikh- bahwa pemimpin itu biasa melakukan umrah, dan menampakkan syi’ar-syi’ar Islam. الشيخ: يُصلِّي أو لا يُصلِّي؟ Syaikh: Dia sholat atau tidak? السائل: يُصلِّي يا شيخ! Penanya: Dia sholat, wahai Syaikh! الشيخ: إذن هو مسلمٌ. Syaikh: Kalau begitu, ia (pemimpin) itu muslim. السائل: وأتى واعتمر هنا من حوالي عشرين يوماً أو شهر، كان هنا في المملكة. Penanya: Dia datang kesini (Saudi), dan berumrah sekitar 20 hari atau sebulan. Dia pernah di KSA (Kerajaan Saudi Arabia). الشيخ: ما دام يُصلِّي فهو مسلمٌ، ولا يجوز تكفيرُه، ولهذا لَمَّا سُئل النَّبِيُّ r عن الخروج على الحُكَّام قال: (( لا ما صلَّوا )) ، فلا يجوز الخروجُ عليه، ولا يجوزُ تكفيرُه، من كفَّره فهذا … بتكفيره يُريد أن تعودَ المسألة جَذَعاً، فله بيعة، وهو حاكمٌ شرعيٌّ. أما موضوعُ القوانين، فالقوانينُ يجب قبول الحقِّ الذي فيها؛ لأنَّ قبول الحقِّ واجبٌ على كلِّ إنسانٍ، حتى لو جاء بها أكفرُ الناس، فقد قال الله عزَّ وجلَّ: {وَإِذَا فَعَلُوا فَاحِشَةً قَالُوا وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءَنَا وَاللهُ أَمَرَنَا بِهَا} فقال الله تعالى: {قُلْ إِنَّ اللهَ لاَ يَأْمُرُ بِالفَحْشَآءِ} [الأعراف 28]. وسكت عن قولهم: {وَجَدْنَا عَلَيْهَا آبَاءَنَا}؛ لأنَّها حقٌّ، فإذا كان تعالى قبِل كلمةَ الحقِّ من المشركين فهذا دليلٌ على أنَّ كلمةَ الحقِّ تُقبلُ من كلِّ واحد، وكذلك في قصة الشيطان لَمَّا قال لأبي هريرة: (( إنَّك إذا قرأتَ آيةَ الكرسي لَم يزل عليك من الله حافظ ولا يَقرَبْك الشيطان حتى تُصبح )) قبِل ذلك النَّبِيُّ صلى الله عليه وعلى آله وسلَّم، وكذلك اليهودي الذي قال: (( إنَّا نجد في التوراة أنَّ الله جعل السموات على إصبع، والأرضين على إصبع ـ وذكر الحديث ـ فضحك النَّبِيُّ صلى الله عليه وعلى آله وسلم حتى بَدَت أنيابُه أو نواجِذُه؛ تصديقاً لقوله، وقرأ: {وَمَا قَدَرُوا اللهَ حَقَّ قَدْرِهِ وَالأَرْضُ جَمِيعًا قَبْضَتُهُ يَوْمَ القِيَامَةِ وَالسَّمَوَاتُ مَطْوِيَّاتٌ بِيَمِينِهِ} [الزمر 67] )). فالحقُّ الذي في القوانين ـ وإن كـان مِن وَضعِ البشرِ ـ مقبولٌ، لا لأنَّه قول فلان وفلان أو وضْعُ فلان و فلان، ولكن لأنَّه حقٌّ. وأمَّا ما فيه من خطأ، فهذا يُمكنُ تعديلُه باجتماع أهل الحلِّ العقدِ والعلماء والوُجهاء، ودراسة القوانين، فيُرفَضُ ما خالف الحقَّ، ويُقبلُ ما يُوافِقُ الحقَّ. أمَّا أن يُكفَّرَ الحاكم لأجل هذا؟! مع أنَّ الجزائر كم بقيت مستعمَرة للفرنسيين؟ Syaikh: Selama ia masih sholat, maka ia adalah muslim, tak boleh dikafirkan. Oleh karena ini, Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tatkala ditanya tentang pemberontakan melawan pemerintah, maka beliau bersabda, “Jangan, selama ia masih sholat”. [HR. Muslim dalam Kitab Al-Imaroh (62) Tidak boleh memberontak melawan pemimpin itu, tak boleh mengkafirkannya. Barangsiapa yang mengkafirkannya, maka dia (yang mengkafirkannya) dengan perbuatannya ini menginginkan masalah kembali dari awal. Baginya ada bai’at, dia adalah pemimpin yang syar’iy. Adapun masalah undang-undang, maka undang-undang wajib diterima kebenaran yang terdapat di dalamnya, karena menerima kebenaran adalah wajib bagi setiap orang, walapun kebenaran itu dibawa oleh manusia yang paling kafir. Allah -Azza wa Jalla- berfirman, “Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata: “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya”. Lalu Allah berfirman, Katakanlah: “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?”. (QS. Al-A’raaf: 28) Allah -Ta’ala- mendiamkan ucapan mereka, “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu”. Karena itu adalah benar. Jika Allah -Ta’ala- menerima kalimat kebenaran dari orang-orang musyrik, maka ini adalah dalil bahwa kalimat kebenaran diterima dari setiap orang. Demikian pula kisah setan, tatkala ia berkata kepada Abu Hurairah, “Sesungguhnya jika kau membaca ayat Kursi, maka senantiasa akan ada padamu seorang penjaga dari Allah, dan setan tak akan mendekatimu sampai waktu pagi”. [HR. Al-Bukhoriy dalam Kitab Bad’il Kholqi (3033)] Ucapan itu diterima oleh Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- (dari setan,- pen). Demikian pula orang-orang Yahudi yang berkata, “Sesungguhnya kami telah menemukan dalam Taurat bahwa Allah meletakkan langit pada sebuah jari, dan bumi pada sebuah jari –diapun menyebutkan hadits-. Kemudian Nabi -Shallallahu alaihi wa sallam- tertawa sampai gigi geraham beliau tampak karena membenarkan ucapan orang itu. Beliaupun membaca ayat: “Dan mereka tidak mengagungkan Allah dengan pengagungan yang semestinya padahal bumi seluruhnya dalam genggaman-Nya pada hari kiamat dan langit digulung dengan tangan kanan-Nya”. [HR. Al-Bukhoriy dan Muslim] Jadi, kebenaran yang terdapat dalam undang-undang buatan manusia adalah diterima, walaupun berasal dari buatan manusia. (Kebenaran itu diterima) bukan karena itu adalah pendapat fulan, dan fulan, atau buatan fulan, dan fulan. Tapi karena ia adalah kebenaran. Adapun kesalahan yang terdapat di dalamnya, maka itu mungkin bisa dibetulkan dengan berkumpulnya para ahlul halli wal aqdi, para ulama, dan para pemuka, dan mempelajari undang-undang itu. Maka yang menyelisihi kebenaran ditolak, dan yang sesuai kebenaran diterima. Adapun pemerintah dikafirkan, karena masalah seperti ini, (maka tak sepantasnya)! Padahal Al-Jaza’ir berapa lama dijajah oleh orang-orang Perancis? السائل: 130 سنة. Penanya: Selama 130 tahun الشيخ: 130سنة! طيِّب! هل يُمكن أن يُغيَّر هذا القانون الذي دوَّنه الفرنسيَّون بين عشيَّة وضحاها؟! لا يُمكن. أهمُّ شيء: عليكم بإطفاء هذه الفتنة بما تستطيعون، بكلِّ ما تستطيعون، نسأل الله أن يقيَ المسلمين شرَّ الفتن. Syaikh: 130 tahun ?! Baiklah, apakah mungkin undang-undang ini yang telah dirancang oleh orang-orang Perancis, bisa diubah antara sore dan pagi saja? Ini tak mungkin!! Perkara yang terpenting, wajib bagi kalian memadamkan fitnah (masalah takfir) ini sesuai kemampuan kalian, dengan segala yang kalian mampu. Kami memohon kepada Allah agar Dia melindungi kaum muslimin dari kejelekan fitnah. =================================== Sumber Terjemahan : Almakasari.com dengan sedikit editan yang dianggap perlu Sumber tulisan bahasa Arab : Kitab Fatawa Al-Ulama’ Al-Akabir fi maa Uhdiro min Dima’ fil Jaza’ir, Disusun oleh Syaikh Abdul Malik Ramdani Al-Jazairi hafizhahullahu, bisa didownload disini: klik atau disini klik atau disini klik Dengarkan fatwa asli dari Syaikh Muhammad Utsaimin rahimahullahu disini: klik ================================================================== 05 Februari 2011 Lampiran 1 Lampiran 1 (dari Kitab Kenapa Aku Hijrah Dari Firqah Ini?) Orang Yang Suka Bertaqiyah Tidak Diterima Riwayatnya Kebiasaan berbohong dari firqah ini telah mendarah daging, sebab tidak disebut paham salah satu dari anggota kelompok mereka kecuali ia harus pandai menjaga bithonah budi luhur (dalam bahasa Syi’ah yaitu Taqiyah). Oleh sebab itu kelompok ini sangat cocok terjun didunia politik yang penuh tipu daya, suap, pemutarbalikan fakta dan sumpah palsu untuk kepentingan kelompoknya. Dalam suatu kisah dalam Makalah CAI disebutkan bagaimana contoh tauladan buruk cara bertaqiyah dari sang pendiri kelompok, Dalam hubungannya dengan ilmu hadits, orang yang suka bertaqiyah atau bersumpah palsu demi membela mazhabnya tidak dapat diterima riwayatnya, walaupun ia menyebutkan sanad disertai sumpah. Al-Hafizh Adz-Dzahabi rahimahullahu dalam Mizan Al-I’tidal (1/118 –Cet Darul Kutub Ilmiyah) memberi alasan, ”… sebab bahkan kedustaan adalah ciri khas mereka dan taqiyah dan nifak pakaian mereka. Bagaimana bisa diterima riwayat dari mereka?”. Maksud beliau, walaupun mereka memiliki sanad dan menuturkan sanad, tapi riwayat mereka tetap tidak diterima, sebab menjadi kabur dan tersamar antara kebenaran dan kedustaannya. Tidak jelas, apakah riwayatnya ini taqiyah atau sebuah kebenaran. Al-Khathib Al-Baghdadi rahimahullahu berkata, ”… Sebagian ulama menerima riwayat dari ahli bid’ah yang tidak dikenal menghalalkan dusta dan membuat kesaksian palsu untuk para pengikutnya”. (Al-Kifayah hal. 367 –cet Darul Huda). Ibn Shalah rahimahullahu berkata, ”Diantara para ulama ada yang menerima riwayat ahli bid’ah asal tidak menghalalkan dusta untuk membela mazhab atau bagi pengikutnya”. (Muqadimah Ibn Shalah hal. 298 –cet Darul Ma’arif). Imam Nawawi rahimahullahu berkata, ”Dan siapa saja (Ahli bid’ah) yang tid
  2. KALAU TDK MAU MENETAPI JAMAAH, UZLAH. KO’ TDK UZLAH KE HUTAN. JAMAAH PASTI BENAR, SELAIN JAMAAH ADALAH FIRQOH. KALAU PRESIDEN KAU JADIKAN IMAM KNP TDK DIBAIAT, KO’ PAKE CARA ORG KAFIR, KO’ IMAM DAERAH(GUBERNUR) DKI KRISTEN? APA TDK BACA ALQURAN? DALIL2 ANTUM JAKE TDK PAS DGN AZBABBUNNUZULNYA. COBA TAMBAH LG. SENANG SAYA DG ANDA ADA YG GEGERI,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: