Wajibnya Berjama’ah

A. Berjama’ah adalah ciri Agama Samawi
Salah satu ciri khas dari agama samawi (agama yang diturunkan oleh Allah dari langit dan bukan buatan manusia) yang dibawa oleh para Nabi dan Rasul terdahulu adalah bahwa Allah memerintahkan agar orang-orang yang beriman di sepanjang zaman, agar; mereka berjama’ah dan janganlah berfirqah, perhatikan firman Allah :
Artinya : “Dia telah mensyari’atkan bagi kamu tentang agama apa yang telah diwariskan-Nya kepada Nuh dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan ‘Isa yaitu: Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya.” Qs. As Syura : 13
Keterangan : ayat diatas menjelaskan bahwa dari sejak terutusnya Nabi Nuh alaihis salam sebagai awal Rasul, Allah telah melarang mereka berfirqah, dengan kata lain Allah memerintahkan mereka agar berjama’ah. Kemudian kepada kita umat Nabi Muhammad dimana beliau adalah penutup para Nabi dan Rasul, Allah telah menegaskan perintah berjama’ah dan larangan berfirqah :

Artinya : “Dan berpeganglah kamu sekalian kepada tali (agama) Allah dengan berjama’ah dan janganlah kamu bercerai berai.” Qs Ali Imaran : 103

Keterangan : pada ayat ini secara tegas Allah memerintahkan agar Dienul Islam ditetapi dengan berjama’ah dan Allah melarang dari firqah (bercerai berai)

B. Bantahan dan jawaban :
Pendapat bahwa jami’an maknanya bukan jama’ah
Fihak yang “anti jama’ah” berpendapat bahwa; jami’an pada ayat di atas bermakna (kamu) semuanya jadi tidak ada hubungannya dengan perintah berjama’ah.

Jawabnya: Memang benar kalimat jami’an bisa bermakna semuanya, tapi kalimat jami’an pada ayat tersebut bermakna berjama’ah, hal ini di perkuat dengan adanya qarinah (rangkaian kalimat) yang bermakna larangan firqah (tidak jama’ah) di belakang kalimat jami’an. Perbandingannya perhatikan kalimat jami’an pada ayat berikut ini :

Artinya : “Tidak ada halangan bagi kamu untuk makan berjama’ah (bersama-sama) atau sendirian.” Qs An Nur : 61
Artinya : “Kamu kira mereka itu berjama’ah (bersatu) sedang hati mereka berpecah belah. Yang demikian itu karena sesungguhnya mereka adalah kaum yang tiada mengerti.” Qs Al Hasyr : 14

Mereka mengemukakan bantahan; Dalam kitab tafsir Ibnu Katsir (Tafsit Ibnu Katsir adalah kitab Tafsir Al Qur’an yang paling popular karya Imam Imaduddin Isma’il bin Umar bin Katsir rahimullah wafat bulan Sya’ban 774 H – Februarii 1373 salah satu murid Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah) lafadz jami’an tidak diartikan berjama’ah.

Jawabnya: benar Imam Ibnu Katsir tidak memberi arti “berjama’ah” pada lafadz jami’an tapi dengan tegas beliau menjelaskan perintah berjama’ah pada kalimat wala tafarraqu perhatikan penjelasan beliau :

Adapun (arti) firman-Nya: wala tafarraqu; Allah perintah pada mereka agar berjama’ah dan mencegah mereka dari firqah. Kemudian beliau berhujjah pada dalil Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim

Dari Abi Hurairah r.a berkata, Rasulullah SAW bersabda “Sesungguhnya Allah ridha tiga perkara pada kamu sekalian dan benci tiga perkara pada kamu sekalian, yang Allah ridha adalah kalian beribadah kepada-Nya dengan tidak menyekutukannya dan bahwa kalian menetapi tali (agama) Allah dengan berjama’ah dan tidak berfirqah dan Allah benci dari kalian “dikatakan dan dia berkata” (katanya dan katanya) dan banyaknya pertanyaan dan menyia-nyiakan harta.” HR Muslim : 4578

Catatan: dalam riwayat yang lain dijelaskan bahwa perkara ke-3 yang dicintai Allah adalah
Dan bahwa kalian berbakti (taat) kepada orang yang oleh Allah diserahi mengurus perkara kamu sekalian (imam)
Diantara sahabat Nabi adalah Abdullah bin Mas’ud yang memperkuat penafsiran jama’ah pada kalimat tersebut.
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a sesungguhnya dia berkata di dalam arti firman-Nya : wa’ tashimu bihablillahi jami’an dia mengatakan: (maksudnya adalah) al jama’ah. Tafsir At Thabari : 5973
Dan banyak dalil dari hadits-hadits yang shahih bahwa Rasulullah memerintahkan agar umatnya senantiasa luzumul jama’ah (menetapi jama’ah)

C. Kesimpulan
Berjma’ah di dalam menetapi Islam adalah suatu keniscayaan meskipun berjama’ah tidak masuk dalam rukun Islam yang lima, akan tetapi berdasarkan dalil-dalil shahih dari Al Qur’an dan As-Sunnah dapat diketahui dengan jelas bahwa Islamnya seseorang tidak akan sah melainkan dengan berjama’ah, maka jelaslah berjama’ah di dalam menetapi Islam hukumnya wajib, dalam qaidah ushul fiqh dijelaskan
Sesuatu perkara yang bila perkara wajib tidak bisa sempurna melainkan dengannya maka hukum perkara itu adalah wajib. Al-qawa’id wa al-Ushul al-jami’ah wa al-Furuq wa at-Taqasim al-Badi’ah an-Nafi’ah (Syaikh as-Sa’di : 36) dan Nazhm al-Waraqat (Syaikh ad-Din al-Umrithi : 20)
Sebagai contoh perbandingan wajibnya berwudlu ketika akan shalat walaupun wudlu bukan bagian dari rukun shalat akan tetapi tidak sah shalatnya orang yang tidak wudlu. Singkat kata berjama’ah adalah kewajiban yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya, perhatikan hadits di bawah ini:
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda “Dan aku perintahkan pada kalian lima perkara yang Allah telah perintahkan kepadaku denganya, yaitu; mendengarkan dan taat, jihad, hijrah dan jama’ah maka sesungguhnya barangsiapa yang memisahi jama’ah (walaupun) satu jengkal maka sungguh dia telah melepaskan tali Islam dari lehernya kecuali jika ia kembali dan barangsiapa yang memanggil (orang lain) dengan panggilan jahiliyah maka sesungguhnya dia termasuk keraknya jahannam, seorang lelaki bertanya “Wahai Rasulullah bagaimana jika dia tetap shalat dan berpuasa?” Nabi menjawab “Walaupun dia tetap shalat dan berpuasa, maka panggillah dengan panggilan Allah yang Allah telah namakan untuk kalian; orang-orang iman orang-orang Islam, wahai hamba Allah.” HR At Tirmidzi : 2790 (Abu Isa : Hasan Shahih)

One Comment to “Wajibnya Berjama’ah”

  1. Mengulang Kembali “La Islama…”

    Telah sampai kepada ku permasalahan tentang sebuah atsar yang dikatakan berasal dari perkataan Umar radhiyallahu’anhu. Atsar ini, telah menjadi andalan dalil bagi jama’ah-jama’ah hizbiyyah khawarij dalam rangka mengkafirkan kaum muslimin yang tidak bergabung bersama kelompoknya. Namun aku mengkhawatirkan, justru atsar itu bukan malah menguatkan dalil bagi mereka tapi justru menjadi bumerang bagi mereka (ini akan kami jelaskan dibawah)

    Atsar yang kami maksud yaitu :

    إِنَّهُ لاَ إِسْلاَمَ إِلاَّ بِجَمَاعَةٍ ، وَلاَ جَمَاعَةَ إِلاَّ بِإِمَارَةٍ ، وَلاَ إِمَارَةَ إِلاَّ بِطَاعَةٍ

    “Tidak ada Islam kecuali dengan berjama’ah, dan tidak ada jama’ah kecuali dengan keamiran, dan tidak ada keamiran kecuali dengan ketaatan”

    Syubhat yang dibangun dari masalah ini antara lain :

    1. Atsar ini atsar shahih, sedangkan menurut Salafi atsar ini palsu !!!

    2. Kalau atsar ini dhaif, kenapa ada Syaikh-Syaikh Salafi mengutipnya dalam kitab-kitabnya?

    3. Taruhlah atsar ini shahih, apakah tepat digunakan sebagai dalil bagi jama’ah-jama’ah hizbiyyah untuk mengkafirkan kaum muslimin?

    4. Apakah orang yang mendhaifkan atsar ini, merasa lebih paham dari Umar radhiyallahu’anhu?!

    Berikut ini, dengan mengharap petunjuk dari Allah, jawaban bagi semua syubhat itu:

    1. Syubhat: “Atsar ini atsar shahih, sedangkan menurut Salafi atsar ini palsu !!!”

    Aku pikir, syubhat ini muncul karena dangkalnya pemahaman, kemalasan menelaah secara mendalam dan sifat tergesa-gesa menyimpulkan. Setahu kami tidak ada ‘salafi’ yang mengatakan atsar yang diriwayatkan oleh ad-Darimi dan Ibnu Abdil Barr ini palsu. Tetapi kami merajihkan (memilih pendapat yang terkuat) bahwa atsar ini dha’if (lemah) atau dhaif jiddan (lemah sekali), sebagaimana telah kami bahas dalam suatu artikel khusus.

    Memang kami telah mencap palsu sebuah lafazh yang mirip dengan lafazh atsar diatas, yaitu dengan tambahan lafazh, “wa la imarota ila bil bai’at”, oleh sebab kami tidak menemukan atsar dengan lafazh ini, bahkan tidak ada pula nukilan dari ulama-ulama terdahulu, dan kami menduga bahwa lafazh ini hanya buatan dan bualan mereka saja (lihat artikelnya disini). Jadi mereka yang tidak membedakan penghukuman kami antara lafazh ini dengan lafazh dari Imam ad-Darimi dan Ibnu Abdil Barr adalah orang-orang yang kurang baca, kurang paham dan tergesa-gesa.

    Kami akan mengulangi lagi disini untuk mengingatkan bahwa sebab pendhaifan kami atas atsar Ad-Darimi dan Ibnu Abdil Barr dikarenakan sebab-sebab sebagai berikut:

    Satu, perawi bernama Shofwan bin Rustum, dia ini perawi majhul (tidak dikenal) dan mungkar.

    Dua, keterputusan antara Tamim ad-Dari dan Abdurrahman bin Maisaroh, sebab Abdurahman tidak pernah bertemu Tamim.

    Ketiga, dan ini tambahan terbaru dari pernyataan kami sebelumnya, bahwa Baqiyah itu seorang mudalis dalam tingkat paling rendah, sehingga ia harus menjelaskan dengan lafazh “Hadatsana” disetiap tingkatan sanad, jika Baqiyah tidak berkata demikian maka riwayatnya ditolak. Diantaranya dalam riwayat ini.

    Maka menjadi semakin yakinlah kami akan lemahnya riwayat ini, dan tidak boleh dinisbatkan kepada Umar setelah terbukti riwayatnya lemah, jangan sampai kita menisbatkan suatu perkataan kepada beliau sesuatu yang tidak pernah beliau katakan. Atsar ini dinyatakan dhoif oleh banyak ahli hadits diantaranya Syaikh Ali Hasan Al-Halabi dalam kitab Al-Bai’at, Syaikh Husein Salim Asad dalam takhrijnya atas Sunan Ad-Darimi, Syaikh Ibnu Barjas mengisyaratkan kedhaifannya dengan mengutipnya secara makna dalam kitabnya Mu’amalatul Hukam, Syaikh Abdul Malik Ar-Ramdhani mengisyaratkannya juga dengan mendiamkannya dalam kitab Sittu Duror dan lainnya.

    Adapun Syaikh Muhammad Bazmul dalam kitabnya, “Al-Jama’ah wal Imammah” mengatakan dalam catatan kakinya bahwa riwayat ini menjadi hasan karena dikuatkan oleh perkataan Abu Darda radhiyallahu’anhu,

    لا إسلام إلا بطاعة ولا خير إلا في الجماعة والنصح لله عز وجل وللخليفة وللمسلمين عامة

    “Tidak ada Islam kecuali dengan taat, dan tidak ada kebaikan kecuali dalam jama’ah, dan nasihat Allah Azza wa Jalla dan bagi Khalifah, dan bagi kaum muslimin semuanya”.

    Atsar ini dikeluarkan oleh Ibnu Abdil Barr dalam At-Tamhid (21/289) dan Ibnu Atsakir (25/24) semuanya dari jalan :

    محمد بن الحسين قال حدثنا ابن شاهين قال حدثنا أبو هشام محمد بن يزيد الرفاعي قال حدثنا إسحاق بن سهل عن المغيرة بن مسلم عن قتادة عن أبي الدرداء

    “Muhammad bin Husein yang berkata: menceritakan kepada kami Ibnu Syahin yang berkata: menceritakan kepada kami Abu Hiysam Muhammad bin Yazid Ar-Rifa’i yang berkata, menceritakan kepada kami Ishaq bin Sahl dari Al-Mughiroh bin Muslim dari Qotadah dari Abu Darda”. (ini lafazh Ibnu Abdil Barr).

    Atsar ini terdapat dalam Kanzul Ummal no. 44282.

    Akan tetapi kita tidak mengikuti perkataan seseorang kecuali dengan hujjah yang jelas, tidak taqlid dan fanatik pada salah satu imam atau Syaikh. Sebab siapapun bisa diterima dan ditolak perkataannya kecuali Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam, apalagi ada syaikh dan imam lain yang menyelisihi Syaikh Bazmul dengan hujjah yang lebih kuat. Akan tetapi ini bukan berarti meremehkan dan melecehkan Syaikh sama sekali, dan tidak ada yang berkesimpulan demikian kecuali orang bodoh dan berprasangka.

    Dan kami tidak merajihkan penghasanan dari Syaikh Bazmul karena alasan sebagai berikut:

    Satu, atsar Umar kedhaifannya cukup parah dengan ilat-ilat seperti yang telah kami sebutkan, maka tidak bisa dijadikan syahid bagi yang lainnya.

    Kedua, dalam sanad atsar Abu Darda juga ada kedhaifannya, sebagaimana dikatakan oleh Syaikh Bazmul sendiri. Diantara kedhaifannya adalah keterputusan antara Qotadah dan Abu Darda, sebab Qotadah tidak pernah bertemu dan mendengar dari Abu Darda.

    Ketiga, lafazh yang dikutip Syaikh Bazmul dari Ibnu Abdil Barr, dan begitu pula dari Ibnu Atsakir dan Kanzul Ummal tidak lengkap, sungguh atsar ini telah dikeluarkan oleh Ibnu Abi Hatim dalam Tafsirnya (no. 15540) demikian pula oleh Ibnu Katsir dalam Tafsirnya (6/75) dengan lafazh yang lebih jelas:

    لا إِسْلامَ إِلا بِطَاعَةِ اللَّهِ وَلا خَيْرَ إِلا فِي جَمَاعَةٍ, وَالنَّصِيحَةُ لِلَّهِ وَلِرَسُولِهِ وَلِلْخَلِيفَةِ وَلِلْمُؤْمِنِينَ عَامَّةً

    “Tidak ada Islam kecuali dengan ketaatan kepada Allah, dan tidak ada kebaikan kecuali dalam Jama’ah, dan nasihat bagi Allah, bagi Rasul-Nya, bagi para khalifah dan bagi orang-orang iman semuanya”.

    Oleh sebab itu kami memandang atsar ini dan atsar Umar berbeda lafazh dan maknanya, tidak bisa dikatakan saling menguatkan.

    2. Kalau atsar ini dhaif, kenapa ada Syaikh-Syaikh Salafi mengutipnya dalam kitab-kitabnya?

    Menurut ku, pernyataan ini keluar dari orang-orang yang biasa taqlid buta kepada imam-imamnya dan kepada guru-gurunya. Mereka tidak terbiasa dengan metode ilmiah para ahli hadits dalam berhujjah. Mereka juga biasa berpikiran bahwa perkataan ulama tidak mungkin salah, dikarenakan doktrin yang membelengu otak mereka sejak puluhan tahun.

    Allah Ta’ala berfirman,

    وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا

    Artinya,

    “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya” (Al-Israa 36).

    الَّذِينَ يَسْتَمِعُونَ الْقَوْلَ فَيَتَّبِعُونَ أَحْسَنَهُ أُولَئِكَ الَّذِينَ هَدَاهُمُ اللَّهُ وَأُولَئِكَ هُمْ أُولُو الألْبَابِ

    Artinya,

    “Orang-orang yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik di antaranya. Mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal” (Az-Zumar 18).

    3. Taruhlah atsar ini shahih, apakah tepat digunakan sebagai dalil bagi jama’ah-jama’ah hizbiyyah untuk mengkafirkan kaum muslimin?

    Disinilah letak perbedaannya, dimana para Syaikh Salafi yang menggunakan atsar Umar itu, tidaklah memaksudkannya untuk jama’ah-jama’ah hizbiyyah sirriyyah model mereka. Bahkan justru mereka menggunakan atsar itu untuk menyerang firqah-firqah seperti mereka dari khawarij, rafidhah, mu’tazilah dan yang lainnya yang keluar dari penguasa muslim dan jama’ah kaum muslimin. Sebagaimana yang nampak dari Kitab al-Jama’ah wal Imammah Syaikh Bazmul.

    Syaikh Ibnu Barjas rahimahullahu yang mengutip atsar ini secara makna, mengatakan,

    إن السمع والطاعة لولاة أمر المسلمين جاروا وظلموا العقيدة السلفية قل أن يخلو كتاب فيها من تقريره وشرحه وبيانه، وما ذاك إلا لبالغ أهميته وعظيم شأنه، إذ بالسمع والطاعة لهم تنتظم مصالح الدين والدنيا معاً، وبالافتيات عليهم قولاً أو فعلاً فساد الدين والدنيا. وقد علم بالضرورة من دين الإسلام أنه لا دين إلا بجماعة، ولا جماعة إلا بإمامة ولا إمامة إلا بسمع وطاعة. (جاء نحو ذلك عن عمر رضي الله عنه -، أخرجه الدرامي ( 1/69)) يقول الحسن البصري – رحمه الله تعالي – في الأمراء : (( هم يلون من أمورنا خمساً : الجمعة، والجماعة، والعيد، والثغور، والحدود.

    “Sesungguhnya mendengar dan taat kepada pemerintah Muslim adalah salah satu pokok aqidah salafiyyah. Banyak kitab-kitab yang telah memuat permasalahan ini, yang disertai dengan penjabaran dan penjelasannya. Hal ini tidak lain karena penting dan agungnya perkara ini. Urusan agama dan dunia akan menjadi baik bila penguasa didengar dan ditaati. Sebaliknya timbulnya kerusakan dalam masalah agama dan dunia terjadi bila pemerintah sudah ditentang dengan perkataan maupun perbuatan. Perlu diketahui, bahwa dalam Islam, ad-Din ini tidak tegak kecuali dengan jama’ah, dan jama’ah tidak tegak kecuali dengan imammah, dan imammah tidak akan tegak kecuali dengan mendengar dan taat (telah datang semisal ini dari Umar radhiyallahu’anhu yang dikeluarkan oleh Ad-Darimi (1/69)). Berkata Al-Hasan Al-Bashri –rahimahullahu Ta’ala- tentang (makna) Amir, “Mereka adalah yang menguasai kita dalam lima perkara: Shalat jum’at, shalat jama’ah, shalat hari raya, pertahanan dan penegakan hukum …. ” (Mu’amaltul Hukam hal 18).

    Dan perkataan ini pun bukan berarti mengkafirkan mereka yang keluar dari jama’ah secara mutlak dan serampangan sebagaimana dilakukan Khawarij. Oleh sebab itu, benarlah apa yang dikatakan oleh Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam,

    يَقْرَؤُونَ الْقُرْآنَ ، يَحْسِبُونَ أَنَّهُ لَهُمْ ، وَهُوَ عَلَيْهِمْ

    Artinya,

    “Mereka (Khawarij) membaca Al-Qur’an, lalu menyangka ayat-ayat Al-Qur’an itu bagi mereka, padahal atas mereka” (Diriwayatkan oleh Muslim (no. 1066) dan Abu Dawud (no. 4768)).

    4. Apakah orang yang mendhaifkan atsar ini, merasa lebih paham dari Umar radhiyallahu’anhu?!

    Perkataan ini, sudah kami jelaskan dalam artikel “Dakwah Khawarij : Gaya Mereka Dalam Berdalil” bahwa yang demikian hanya muncul dari pikiran dangkal para pelaku bid’ah. “Ketika ahlus sunnah menjelaskan bahwa perkataan yang dinisbatkan kepada Umar, ”La Islama ila bil jama’ah…..dst”, adalah atsar dhaif karena diriwayatkan oleh perawi yang dha’if, mereka berkata, ”Orang ini merasa lebih baik dari Umar, sedangkan Umar itu (keutamaanya) demikian dan demikian…”, padahal yang ahlus sunnah ingkari adalah penisbatan perkataan ini kepada Umar bukan tidak yakin dengan keutamaan Umar”.

    Hanya kepada Allah lah aku meminta pertolongan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: