Figur Ibu Muslimah Yang Didambakan

“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim : 6).

Adalah sangat disayangkan, betapa ibu muslimah, terutama mereka yang menetap di selain negara-negara Arab, sangat lemah dalam memahami isi dan esensi Al-Qur’an. Padahal sepatutnya dengan “pedoman hidup” itu seorang ibu dapat menuntun dirinya, keluarga serta anak-anak menaati ajaran-ajaran Islam, dan perintah Allah SWT.

Ada pula problem keluarga lain yang berkaitan dengan Kompas kehidupan manusia ini. Yaitu bahwa ibu muslimah tidak memulai dengan dirinya dalam membenahi tatanan rumah tangga. Malah ia hanya menyuruh anak-anaknya saja yang mengikuti aktifitas keagamaan. Baik dengan membiayainya mengikuti kursus-kursus pengajian atau menyelenggarakan sendiri privat pengajian keluarga di rumah.

Namun sayang seribu kali sayang, sang ibu tidak ikut serta didalamnya dan sekaligus mengawasi, bahkan menyibukkan diri sendiri dengan berbagai kegiatan sepele. Tidak secuilpun memberikan dorongan bagi diri pribadi dengan santapan-santapan rohani yang dapat diteladani, terutama bagi anak-anak wanitanya. Malah ia bersibuk ria dengan obrolan ngalor-ngulon dengan konco-konco arisannya, dan memadati diri dengan kesibukan karir. Bahkan sering merasa perlu dengan mengambil tugas kantornya untuk dibawa menjadi seperti sama dengan urusan rumah.

Perhatiannya dipecah berkeping-keping menjadi seribu satu keping. Hingga pada akhirnya, membagi kasih sayang kepada keluarga dengan kepingan terakhir, ketika badan telah letih dan ketika senyum tiada lagi bercahaya.

Dampak negatif yang paling sering timbul dari keadaan ini ialah renggangnya hubungan komunikasi antara ibu dan anak, terutama dalam masa kanak-kanak dan remaja, suatu masa yang sangat rawan dan menentukan perkembangan pembentukan kejiwaan sang anak pada masa dewasanya nanti. Dimana pada akhirnya sang anak memperkaya kaidah/norma baik-buruk didalam jiwanya sesuai dengan apa yang dia ketahui dari masyarakat sekitarnya! Bila keadaan lingkungan masyarakatnya bobrok, maka nilai-nilai kebobrokanlah yang nantinya dijadikan parameter kebajikan.

Disamping itu, ibu-ibu muslimah banyak juga yang sudah terbiasa dan berlangganan untuk membeli majalah-majalah wanita. Padahal isinya lebih banyak berbau racun daripada madunya. Gambarnya dipenuhi dengan corang menjijikkan seronok dan kotor. Dan ketika mereka pulang kantor, melepas lelah dengan bermacam kumpulan fiktif dan khayaliyah. Sepi dari sugesti Islamiyah.

Diantara ibu-ibu muslimah, juga masih ada yang membiarkan anak putrinya keluyuran bebas. Masih mungkinkah mereka disebut muslimah?

Cermin kesibukan Ummahatul Mukminah dimasa lalu, adalah mereka sangat ketat dan membagi perhatiannya secara utuh dalam bidang pendidikan anak. Terlebih Ummahatul Mukminah harus dapat memberikan contoh kepada generasi mukminin pada saat itu, perhatikan firman Allah : “Nabi itu (hendaknya) lebih utama bagi orang-orang mukmin dari diri mereka sendiri dan isteri-isterinya adalah ibu-ibu mereka.” (QS. Al-Ahzaab : 6).

Bagi anak putri, dianjurkan untuk menggunakan sebagian besar waktunya di rumah ibu atau anak wanitanya keluar jika kondisi memang memerlukan, atau adanya kebutuhan bersilaturahmi dengan keluarganya atau sahabat handai wanitanya. Hingga ia dapat leluasa menanamkan pengaruhnya pada keuarga dengan corak keislaman dan mengantarkan anak-anaknya ke jenjang kedewasaan yang Islami yang berdasarkan nilai-nilai syari’at Allah SWT.

Lebih jauh lagi ia dapat mendisiplinkan anak dengan aturan Islam secara ketat, dengan menciptakan suasana dan atribut keislaman di rumah. Bila hal ini berlangsung tetap dan teguh, dengan sendirinya pengaruh-pengaruh jahat jahiliyah terkikis habis.

Ibu muslimah dulu, di zaman Rasulullah mewujudkan suasana dan cuaca Islamiyah di tengah-tengah keluarga. Anak-anak para sahabat nabi SAW menerima pengajaran dan pendidikan Islam sejak mereka dalam buaian. Dan ibu mereka membacakan alunan ayat-ayat suci Al-Qur’an semenjak mereka masih menyusui. Bila sudah pandai sedikit bercakap, menuntunnya kalimat-kalimat dan doa-doa. Seperti kalimat tahlil, tahmid, takbir dan taqdis. Jika melakukan suatu pekerjaan seperti makan, minum atau tidur menyertainya dengan doa seusai dengan perintah Rasulullah. Dengan begitu anak akan terbiasa dengan kesibukan Islami.

Mereka para orang tua dari sahabat Rosul, selalu menjaga umur anaknya, dan tidak melewatkan begitu saja secara sia-sia. Hingga mereka megisinya dengan berbagai masukan pendidikan, yang materinya disesuaikan dengan tingkat usia mereka, misalnya, pada usia 6 tahun, anak diperintahkan menegakkan sholat, dan jika 10 tahun meninggalkan pekejaan itu, anak dipukulnya.

Hiburan anak

Ibu muslimah yang baik, jelas mampu menghibur putra-putrinya dengan berbagai kisah-kisah menarik dan bernafaskan Islam. Sehingga ibu muslimah perlu menguasai banyak kisah-kisah dan sejarah Islam, kejayaan dimasa lalu dan kegigihan para pejuang-pejuangnya. Sangat perlu bagi ibu muslimah mengenal tiap nama-nama para sahabat dan kiprah mereka dalam menyebarkan da’wah Islam. Dan dalam menyampaikan kisah tersebut perlu disertakan harapan kepada Allah, agar kelak anak-anaknya dapat mencontoh sikap, sifat dan kiprah yang baik dari mereka.

Ibu muslimah didalam kalam dan katanya, perlu membatasi pada hal-hal yang baik semata supaya anak pun meniru pada segi baiknya saja. Tiada yang patut ditolerir, jika anak kandung mengucapkan lisan keji, ibu muslimah sedikitpun tidak membiarkan anak-anaknya mendengarkan senandung lagu-lagu atau syair picisan yang bakal merubah tingkah polahnya dan menggeser akhlaqnya dari fitrahnya. Juga ia tak rela membebaskan anak-ananya menyaksikan film-film dan siaran urakan. Tapi bukan hanya melarang dengan hanya mampu mengatakan : jangan! atau tidak! Pada usia tertentu anak perlu mendapat alasan-alasan syar’i berdasarkan petunjuk dari Allah SWT dan Rasul-Nya.

Bacaan

Bila anak sudah mampu membaca, sepatutnya ibu muslimah menyediakan buku-buku berisi bacaan sehat. Dan anak perlu diperkenalkan dengan perpustakaan kecil dan menempatkan padanya buku-buku bermutu semata. Dan ibu, seharusnya senantiasa mengajak putra-putrinya berdialog. Agar dapat terdeteksi sejumlah masukan-masukan pemikiran pada anaknya, dan meninjau sejauh mana nilai-nilai Islam telah diketahui dan diterapkan baik selama dan atau diluar kontrol perhatian orang tua.

Hingga bila diketahui terdapat racun di dalam pemikiran anaknya sebagai hasil pergaulan diluar rumah dengan kawan-kawan atau buku-buku temannya, ibu muslimah dapat segera meng-counter-nya, dan memperbaiki atau meluruskan (jika terdapat Penyimpangan).

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: