Sempurna nya Hati

Bad news is good news. “Ayat suci” dunia jurnalistik itu memang mustajab, sehingga seorang Yahudi pengemis tua yang kedua matanya buta dan giginya ompong memakai metoda itu untuk mengais rejeki.

Si pengemis gemar sekali meniup-niupkan berita buruk untuk menarik perhatian pengunjung pasar Madinah. Celakanya, Yahudi pengemis itu gemar menebar kabar buruk seputar Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam. Rupanya dia paham, figur publik nomor satu seperti Rosululloh bakal menjamin gossip yang dilemparkannya mendapat perhatian.

“Hei… fulan, tahukah kamu, Muhammad baru saja kawin lagi!”, begitu si pengemis buta membuka provokasi di sudut pasar Madinah tempatnya mangkal saban hari. Jika ada orang mendekat karena mendengar omongannya yang ngaco, si pengemis menggunakan kesempatan itu untuk meminta sedekah.

“Tahukah Tuan-tuan, Muhammad itu menderita sakit jiwa!” teriak si pengemis buta lebih nekad jika tak kunjung ada orang yang mendekat. Karena hafal tingkah miring si pengemis, pengunjung pasar Madinah malah jadi antipati dan enggan mendekati si Yahudi tua.

Tapi ada seseorang yang setiap hari selalu datang ke pasar hanya untuk menemui si pengemis. Ia mendatangi si pengemis buta untuk menyuapinya makanan. Karena gigi si pengemis sudah bertanggalan, orang itu selalu melunakkan makanannya lebih dahulu sebelum menyuapkan ke mulut si pengemis.

“Ah, terimakasih… tahukah kamu kalau apa yang dikatakan Muhammad itu semua bohong belaka?” Oceh si pengemis buta sambil makan. Orang yang menyuapinya diam saja, ia tidak pernah terpengaruh ucapan-ucapan sinis si pengemis.

Demikianlah sampai akhir hayatnya, manusia mulia yang tak lain adalah Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam senantiasa bersedekah dengan cara menyuapi seorang Yahudi pengemis yang selalu mencaci dirinya. Sampai Nabi Alloh wafat, pengemis kurangajar itu tidak tahu kalau orang yang setiap hari memberinya makan adalah Rosululloh.

Setelah Nabi wafat, Abu Bakar Shiddiq, sahabat sekaligus mertua beliau bertanya kepada Aisyah, istri Rosululloh, “Wahai anakku, apakah ada sunnah dari sahabatku Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam yang belum aku kerjakan?”

Aisyah menjawab, “Wahai bapakku, engkau adalah ahli sunnah. Segala sunnah Rasulullah telah engkau lakukan kecuali satu hal.” Kemudian Aisyah menceritakan kebiasaan Rosululloh sholallohu ‘alaihi wasallam mendatangi seorang pengemis tua di pojok pasar Madinah. “Karena Rosululloh sudah tiada, aku khawatir tidak ada lagi orang yang memberi makan pengemis itu,” ujar Aisyah.

Abu Bakar Shidiq orangnya sensitif, tanpa pikir panjang lagi dia mengambil makanan dan mendatangi pengemis tua yang dimaksud.

Demi mendengar ada orang mendatangi, si pengemis seperti biasa melontarkan gosip: “Fulan.., fulan.., tahukah engkau, Muhammad baru sakit gila.” Pengemis buta itu tidak mendengar perihal wafatnya Rosululloh.

Abu Bakar Shidiq terkejut mendengarnya. Hatinya geram sekaligus kasihan. Abu Bakar menahan diri demi mengingat Rosululloh pun tidak pernah marah menghadapi pengemis buta yang tidak tahu diri itu.

Abu Bakar Shidiq mengeluarkan makanan yang dibawanya lalu menyuapi si pengemis. Dalam hati dia bertanya-tanya, apa yang membuat pengemis Yahudi ahli fitnah ini begitu istimewa sehingga Rosul sendiri kerap datang menyuapinya?

Baru makan satu suap, si pengemis membuat kejutan lagi. Ia menyemburkan makanan yang disuapkan Abu Bakar, lalu caci maki kembali terlontar. “Cuih.., siapa kamu? Kamu bukan orang yang biasa mendatangiku dan memberiku makan setiap hari.”

Abu Bakar Shidiq menjawab, “Engkau benar Pak Tua, orang yang setiap hari memberimu makan sudah meninggal. Aku datang ke sini untuk menggantikan sahabatku itu memberimu makan. Tapi, bagaimana engkau tahu akan hal ini Pak Tua? Bukankah matamu buta dan aku tidak berkata apa-apa sebelumnya?”

Si pengemis berkata, “Orang yang setiap hari memberiku makanan pasti melunakkan dulu makanannya, baru memasukkannya ke mulutku. Tidak seperti kamu, dia tahu kalau gigiku sudah ompong.”

“Oh, maafkan aku karena Rosululloh tidak memberikan wasiat demikian padaku,” ujar Abu Bakar Shidiq.

“Apa katamu?”

“Sampai beliau wafat Rosululloh tidak pernah bercerita tentang Anda dan kebiasaan beliau dalam menyuapi Anda,” sahut Abu Bakar.

“Jadi, orang yang selama ini memberiku makan adalah Rosululloh?”

“Benar.”

Hati si Yahudi pengemis bagai diguyur es. Pintu hidayah terbuka di hatinya sehingga serta merta ia bersyahadat di hadapan Abu Bakar Shidiq.

Dan demikianlah Islam memberikan contoh tentang bagaimana sebaiknya kita bersikap dan bertutur dengan lemah lembut. Sedekah yang ikhlas, sehingga apa yang diperbuat tangan kanan tidak diketahui oleh tangan kirinya benar-benar sanggup membuka pintu barokah dan rohmat Alloh.

4 Comments to “Sempurna nya Hati”

  1. 😥
    Islam tidak pernah mengajarkan kejahatan…
    semoga kita bisa meniru akhlaknya rasulullah..

  2. Subhanallah……………

  3. Tetaplah berbuat baik dan santun kepada sesama (walaupun non islam sekalipun)……karena itu bisa menjadi salah satu cara untuk beramal ma’ruf…………..kadang-kadang tingkah laku/praktek lebih mudah diikuti/dicontoh dari pada hanya ucapan saja……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: