KH. Nurhasan Part III

Tidak ada bosan bosan kami membahas kisah perjalanan H. Ubaidah dalam usahanya untuk menyatukan seluruh umat islam di Indonesia. Penuh rintangan dan hambatan.

Dari keterangan keterangan cerita para ulama sepuh yang sempat kami tanyakan, secara tidak sadar ada kemiripan alur sejarah dalam menegakkan dinul islam antara Nabi SAW (termasuk para salafus shaleh) dan H. Ubaidah (termasuk para generusnya).

BERIKUT URAIANNYA

Periode Sirr (pelan-pelan)

NABI
Al kisah Nabi dan beberapa sahabat yg masih sedikit memeluk islam, tidak serta merta secara frontal ‘menantang’ kekuasaan orang orang kafir quraisy yang sedang berkuasa di Mekkah pada masa itu. Siapa waktu itu yang berani kepada para pembesar quraisy seperti Abu Sofyan, Abu Jahal, dan kawan kawan?. Pada masa ini Nabi sempat di terror sana sini, hingga pernah suatu kali Ali bin Abi Thalib menggantikan Nabi yang sudah jelas jelas terkepung di rumahnya. Nabi pun (atas izin Allah) berhasil lari dan selamat.

H. UBAIDAH
Al kisah sejak kedatangannya ke tanah air setelah menimba ilmu dengan para ulama sunnah di Mekkah Madinah, H. Ubaidah dan beberapa rekannya seperti Nur Asnawi, Sanusi, Amasalam, dan lainnya yang tidak lebih dari 5 orang, tidak serta merta grasak grusuk ‘membid’ahkan’ ulama ulama lokal yang sebenarnya memang telah nyata nyata akidahnya jauh dari Quran Hadits.

Periode Jahr / Tahdzir (babat alas)

NABI
Setelah Nabi dan kaum Muhajirin diterima oleh kaum Anshor di Madinah, atas izin Allah, disana agama islam malah bisa berkembang pesat. Ketika Nabi dan para sahabat merasa mampu untuk merebut kembali Ka’bah di Mekkah, maka Nabi dan para sahabat berani untuk menyebarkan islam secara terang terangan, yakni dengan mengangkat senjata. Ide untuk melawan para kafir quraisy Mekkah dengan peperangan diusulkan pertama kali oleh Umar bin Khattab. Maka di era inilah terjadi Fathul Makkah (jatuhnya Mekkah ke tangan umat islam yang dipimpin Nabi).

H. UBAIDAH
Dari tahun 1941 hingga 1963, ternyata semakin banyak umat islam di tanah air yang mengerti bahwa islam yang benar, adalah sebagaimana yang ditetapi oleh H. Ubaidah. Semua ada dasarnya, hujjahnya kuat, dan bukan hasil ro’yu (baca buku dengan tafsir bebas), karena semua yang coba diterapkan H. Ubaidah adalah apa yang dialami langsung di Mekkah Madinah bersama teman setianya dalam menuntut ilmu Quran Hadits disana, H. Nur Asnawi (rahimahullah). Maka sejak periode ini tidak henti henti H. Ubaidah membetulkan akidah para muslimin yang dianggap tidak sesuai dengan perintah Allah Rasul, termasuk memberantas bid’ah syirik khurafat tahayul. Di masa ini, yang namanya kitab kitab islam yang tidak jelas, dibakar di depan umum, termasuk menyebarkan seribu lembar pamflet yang berisi ajakan kepada seluruh umat islam supaya tetap menetapi Quran Hadits Jamaah hingga ke tingkat menteri, hingga akhirnya karena dianggap meresahkan, keluarlah SK Kejaksaan Agung RI tahun 1971 yang sangat fenomenal itu🙂

(baca: Surat Keputusan Jaksa Agung RI No.Kep-089/D.A./10.1971 tertanggal 29 Oktober 1971)

Dan puncak gegeran yang diakui sangat besar yang menimpa H. Ubaidah beserta santri santrinya ada di tahun 1979. Tetapi konon kabarnya di tahun inilah beberapa artis lokal seperti H. Benyamin Sueb, Hj. Ida Royani, H. Keenan Nasution, H. Roni Harahap, yang sangat terkenal pada zaman itu, justru malah ikut mengaji Quran Hadits kepada H. Ubaidah.

Periode Penataan

SALAFUS SHALEH
Semenjak Nabi wafat, tonggak kejayaan islam diestafetkan kepada para sahabatnya. Di masa ini terjadi tragedi kelam dalam perjalanan sejarah umat islam. Karena sudah terlihat bibit perpecahan dalam islam. Beberapa ahli sejarah islam mencatat bahwa beberapa peperangan yang terjadi adalah bukan peperangan antara kaum muslimin dengan kaum kafir. Melainkan peperangan antar sesama kaum muslimin. Namun setelah para kaum muslimin sepakat untuk membai’ah Muawiyah bin Abi Sofyan, dan periode kekhalifahan yang hanya berumur 30 tahun berakhir, akhirnya islam bisa kembali berjalan normal. Pada awal periode inilah muncul kaum khawarij yang dianggap ahli bid’ah oleh Utsman bin Affan (lihat sahih Bukhari). Bid’ah karena para khawarij ini tidak mau berbai’ah kepada Utsman dan Ali, malah membunuh keduanya, tetapi mereka juga tidak mau berbai’ah kepada Muawiyah. Mereka khawarij adalah dakhonuh (asap), (mutafaq alaih).

Ketika islam telah ‘merayap’ hingga benua Asia, Afrika, Eropa, sudah tidak kita temui lagi peperangan antara islam versus kafir. Bisa jadi perang salib adalah perang agama secara besar besaran yang terakhir terjadi hingga saat ini. Akhirnya islam diterima oleh berbagai suku bangsa di negara negara mereka, maka untuk apalagi menghunuskan pedang (baca: perang). Era ini berfokus pada kehidupan internal kaum muslimin. Maka periode ini pun boleh dibilang adalah masa penataan.

GENERUS H. UBAIDAH
Setelah H. Ubaidah wafat tahun 1982, tonggak estafet diteruskan oleh putra putri dan para santri santrinya. Di era ini sudah tidak ditemukan lagi santri santri H. Ubaidah yang ‘mblasuk’ ke masjid masjid umum bicara tentang bagaimana cara netepi ibadah yang sesuai Quran Hadits menurut pemahaman para salafus shaleh sampai bikin geger. Pada periode ini semakin hari semakin banyak yang akhirnya secara terang terangan mengakui bahwa apa yang dulu pernah coba disampaikan oleh H. Ubaidah adalah kebenaran. Maka pokok masalah saat ini adalah bagaimana caranya agar kerukunan dan kekompakan antar sesama kaum muslimin bisa terwujud. Niat ibadah tetap karena Allah. Mesjid mesjid mulai dibangun secara permanen, kuat, dan baik.

Periode Pengayoman

SALAFUS SHALEH
Babak baru periode ini ditandai dengan lahirnya para pemikir islam atau para ulama mujtahid yang berupaya mengumpulkan atsar Rasulullah agar para muslimin tidak terjerembab pada hal hal yang dilarang oleh aturan aturan islam. Konon pada periode ini, umat islam benar benar dalam keadaan yoni jaya wibawa mulia, dan terus berjalan hingga berabad abad sebelum akhirnya periode kejayaan negara negara Barat dimulai.

GENERUS H. UBAIDAH
Saat ini warga QHJ berupaya membangun citra positif di masyarakat. Karena masih banyak masyarakat awam yang tahu warga QHJ dari berita berita miring dalam media masa, padahal berita berita tersebut lebih banyak menyimpang jauh dari kenyataan. Alhamdulillah dengan semakin diterimanya warga QHJ di masyarakat, diharapkan seluruh komponen warga QHJ dapat beribadah dengan lancar dan barokah sampai terwujud cita cita luhur para orang shaleh yang terdahulu, yaitu “baldatun toyyibatun wa robbun ghofur”. Semua aspek kehidupan diatur sedemikian rupa agar seluruh warga QHJ menjadi muslim yang faqih, berbudi luhur, mandiri, dan mampu menjadi aset bangsa Indonesia.

Tidak lupa dalam hal pengayoman ilmu, para generus H. Ubaidah saat ini banyak yang sedang berguru di Mekkah. Tujuannya adalah agar islam yang murni ini tidak tenggelam ditelan zaman. Karena tanpa memurnikan agama, akan sia sia saja hasilnya. “Ala Lillahi dinul khalis”. Dan lain lain.

Dari persamaan persamaan alur sejarah diatas dapat pula dikatakan bahwa yang namanya “jihad fi sabilillah” itu pada hakikatnya adalah menegakkan (membela) islam secara murni dan konsekuen sebatas kemampuan, tidak sebatas pengertian “perang” saja sebagaimana yang dirafsirkan oleh kaum muslim yang ekstrim saat ini. Bom sana sini tetapi akibatnya ibadah mereka tidak lancar, karena dikejar kejar terus oleh densus 88.

Jangan samakan dengan zaman kenabian dulu. Karena zaman kenabian dulu, islam tidak bisa tegak (berjalan) jika tidak menguasai suatu wilayah terlebih dahulu. Namun ketika zaman ini islam telah diterima, untuk apa lagi babat alas? Karena inti dari babat alas sebenarnya adalah menegakkan (membela) islam yang murni. Intinya adalah proses, hasil akhir dipasrahkan kepada Allah. Istilahnya “guru ditiru, agama dibela”. Maka “membela” itu tidak lain adalah berjihad dengan harta dan diri (tenaga):

وَجَاهِدُواْ بِأَمْوَالِكُمْ وَأَنفُسِكُمْ فِي سَبِيلِ اللّهِ

Sekarang, tanyalah kepada diri anda masing masing, “Perlukah kita membela agama Allah?.” Perlukah membela agama Allah yang diwujudkan seperti:

– Membangun mesjid mesjid
– Membangun pondok pondok pesantren
– Membangun infrastruktur dan sarana ibadah
– Memberikan ukhro bil ma’ruf kepada para pejuang agama Allah (mubaligh) supaya islam yang haq ini eksis terus sampai kiamat
– Membiayai seluruh pembinaan para generus muslim agar mereka menjadi aset bangsa dan agama kelak
– Memberikan seluruh keperluan agar citra agama islam ini baik di mata masyarakat yang belum mengenal islam
– Dan pembelaan pembelaan lain yang tentunya tidak bisa disebut satu per satu

Jika dirasa perlu atau sangat perlu, sekarang ada pertanyaan lain yang sangat berhubungan: “Bolehkah seorang amir mengatur rukyahnya dalam membela agama Allah?.”

Silakan dipikirkan saudaraku, jangan cuma bisa bilang infak yang dipersenkan itu bid’ah atau maksiat dengan mengait kaitkan ucapan atau fatwa fatwa ulama yang sebenarnya tidak ada hubungannya sama sekali. Karena orang orang picik yang bilang begitu insya Allah dia termasuk (maaf) orang KERE dan KURANG CERDAS.

KERE karena mereka tidak mampu membela agama Allah, tetapi hanya bisa merendahkan orang orang yang telah mampu membela agama Allah sekuat tenaga mereka.

KURANG CERDAS karena mereka hanya bisa menampilkan hujjah atau fatwa kosong tanpa pendalaman ilmu dan kontekstual terlebih dahulu. Atau bisa jadi mereka termasuk ‘anak anak baru’ yang sama sekali belum mengerti sejarah kenapa ada ijtihad ini.

Mungkin ‘anak anak baru’ ini belum tahu bahwa yang membuat ijtihad (amir) dan yang diijtihadi (rukyah) itu sama sama mengeluarkan infak demi mendapatkan pahala dan pertolongan Allah. Karena siapapun yang menolong (membela) agama Allah, Allah pasti akan menolongnya.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن تَنصُرُوا اللَّهَ يَنصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Hai orang orang yang beriman. Jika kalian membela / menolong (agama) Allah, maka Allah akan menolong kalian dan menetapkan tumit (keimanan) atas diri kalian. (QS: 47: 7)

Maka sesuai dalil diatas, apapun dalih ilmiyyah beserta alasan alasannya, sangat wajar apabila orang orang yang tidak mau membela / menolong agama Allah itu sedikit demi sedikit keimanan akan lepas dari leher mereka. Semoga Allah menyadarkan kesalahan dan mengembalikan tumit (keimanan) mereka. Amin.

6 Comments to “KH. Nurhasan Part III”

  1. tulisan yang bagus, tetap semangat amar ma’ruf nahi mungkar ya,,,,

  2. Dulu saya sempat menentang orang tua saya ikut pengajian LDII karena saya pikir itu adalah salah satu ajaran Islam yang tidak lazim dan mengandung kesesatan. Tetapi, Alhamdulillah setelah Allah memberikan saya hidayah dan saya menyatakan untuk masuk Islam secara kaffah dengan mengikuti pengajian Qur’an dan hadist secara murni, persangkaan-persangkaan negatif saya tentang LDII sebelumnya adalah sangat tidak benar.

  3. LDII IS THE BEST

  4. Askm…saya adalah orang jamaah dari kecil … saya bersyukur jadi jamaah… bapa sayalah yg mempejuangkan agama yg benar ni d Tawaui Malaysia…. masa itu memang …….

  5. Artikel yang sangat bagus……

  6. subhanalloh ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: